notebook

“I am nothing special, of this I am sure. I am a common man with common thoughts and I’ve led a common life. There are no monuments dedicated to me and my name will soon be forgotten, but I’ve loved another with all my heart and soul, and to me, this has always been enough.” ~The Notebook, Nicholas Sparks

*Pict. source: http://www.independent.co.uk (https://goo.gl/XHckWR)

Orkestra dan Sebuah Tempat yang Jauh

Pertama kali nonton orkestra, saya seperti hidup di dunia yang jauh. Sebuah tempat yang tak pernah saya kunjungi tapi anehnya seakan sangat saya kenali.

Seumur hidup, saya hanya bisa menonton orkestra di layar kaca. Itu pun tak pernah selesai. Maka malam itu, di antara penonton lain yang terlihat sangat menikmati pertunjukan musik klasik itu, saya berulang kali meyakinkan diri: tidak, saya tak sedang bermimpi.

Orkestra adalah pertunjukan mewah bagi anak kampung seperti saya. Ketika satu persatu artis memainkan alat musiknya, tubuh saya seakan ringan dan melayang. Alunan musik yang tercipta dari piano, biola, cello, dan flute membuka pintu-pintu imajiner dalam diri saya yang terkunci lama.

Saya tak pernah menikmati musik seperti malam itu. Ego dan pikiran-pikiran kacau yang mengendap di alam batin saya seakan larut bersama simfoni yang keindahannya nyaris tak terkatakan. Deadline pekerjaan dan utang ke teman-teman semakin pudar dari ingatan (!).

Baca juga:
Yang Tersisa di Menteng Raya
Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?

Jarang-jarang saya lebay seperti sekarang. Saya rasa ini karena kebingungan saya mengungkapkan keindahan yang baru malam itu saya temukan. Di kampung saya, jangankan orkestra, dangdut koplo ala Monata saja tak pernah ada.

Di tengah merdunya musik klasik malam itu, seakan ada ketenangan sekaligus kebahagiaan yang meresap ke dalam hati dan pikiran saya. Sesuatu yang tak pernah saya nikmati sebelumnya, atau setidaknya berbeda dari keasyikan membaca buku, menonton film, atau mengunjungi tempat-tempat yang bersejarah.

Kalau boleh mengenang, dua jam berada di ruangan bundar itu rasanya sangat singkat. Bagi telinga saya, lagu-lagu yang dibawakan memang kurang familiar, tak seperti lagu-lagu ST 12. Tapi, mendengar begitu banyak alat musik dimainkan bersama-sama adalah pengalaman pertama sekaligus luar biasa.

concert-1838412_960_720
Sumber gambar: https://goo.gl/sYGraF

Ketika nada-nada terakhir dimainkan dan tepuk tangan penonton memenuhi ruangan, saya teringat apa yang dipesankan orang-orang tua kepada saya. Hidup kadang membawa kita pada jalan menurun yang membuat langkah begitu ringan. Di lain waktu, ia memaksa kita memanjat bukit-bukit yang menjulang.

Bukan maksud saya sok bijaksana. Ini murni reaksi otak (ndeso) saya yang shock, karena siang hari masih berjibaku dengan rutinitas yang menyebalkan, lalu malamnya duduk seruangan dengan seniman terkenal, aktor dan aktris Ibukota, juga para ekspat (termasuk Dubes Inggris, kalau tak salah). Ya…meski saya ada di ujung paling jauh di ruangan itu.

Teknik legato yang mengalir tanpa jeda dan staccato yang putus-putus adalah tamsil perjalanan hidup. Ada saatnya rencana-rencana kita terwujud begitu saja. Lancar jaya, seperti bus malamAda saatnya pula usaha kita tersendat-sendat, seperti angkot yang berhenti setiap kali melintas di depan gang yang dilewatinya.

Seperti partitur lagu, hidup adalah sebuah proses. Kalau hanya satu atau dua nada yang kita dengarkan, tak ada keindahan yang kita dapatkan. Do, re, mi… Di mana indahnya? Nada-nada itu baru terdengar merdu kalau kita rangkai menjadi sebuah lagu dan kita mainkan sebagai sebuah kesatuan.

Sebagaimana partitur sebuah lagu, kita tak akan bisa merasakan indahnya hidup jika berhenti di satu titik. Lagi pula, ‘alat musik’ itu memang bukan untuk kita mainkan sesaat tapi selamanya. Hanya dengan terus memainkannya, keindahan yang selama ini kita damba akan kita temukan.

Nah sekarang, kalau kita ingin berhenti sementara lagu yang kita mainkan belum selesai, coba pikirkan sekali lagi. Keindahan apa yang kita peroleh dengan memainkan separuh lagu? Lagi pula, jangan pernah lupa: kita tak pernah sendiri. Ada Conductor yang selalu menunjukkan arah dan memberi kita tanda-tanda.

Kukusan, 27 April 2014 (22.29 WIB)

Flipped1

“My heart stopped. It just stopped beating. And for the first time in my life, I had that feeling. You know, like the world is moving all around you, all beneath you, all inside you, and you’re floating. Floating in midair. And the only thing keeping you from drifting away is the other person’s eyes. They’re connected to yours by some invisible physical force, and they hold you fast while the rest of the world swirls and twirls and falls completely away.” ~Wendelin Van Draanen, Flipped

*Pict. source: http://flipped-2010.blogspot.sg/

Lebaran: Apa yang Salah dengan Diri Kita?

Kita tak selalu bisa berperilaku dewasa, seperti selama ini kita kira. Coba saja perhatikan momen lebaran seperti sekarang. Di rumah, di masjid, di pasar, bahkan di jalan-jalan, kita kadang masih berperilaku seperti anak-anak.

Tak perlu kaget kalau kita dan pasangan kita bersitegang soal waktu yang tepat untuk mudik, budget untuk belanja oleh-oleh, atau tempat kita menginap selama berada di kampung halaman. Ini baru tiga hal yang lumrah menyulut pertengkaran menjelang datangnya hari raya.

Selebihnya? Mari kita ingat satu atau dua tahun yang lalu saat lebaran tinggal menghitung hari. Untuk membantu, ilustrasi berikut mungkin bisa menyegarkan ingatan.

Seorang ayah ingin menghadiri reuni teman-teman SMP-nya. Kangen-kangenan? Tentu, selain untuk menunjukkan kesuksesannya merantau di kota. Siapa yang tak bangga dengan ini? Sang ibu tentu kesal, meski tak cukup peka dengan maksud ayah yang sebenarnya.

Karena jarak kampung halaman yang jauh, seorang suami ingin keluarganya mudik menggunakan pesawat atau kereta. Nyaman dan bisa menghemat waktu. Sementara sang istri, yang tak ingin hanya melihat tetangganya pamer kendaraan, memaksa mudik menggunakan mobil barunya.

Kalau kita sadar betapa perilaku kita kadang sangat menggelikan, kita mungkin bisa menyimpulkan bahwa itu terjadi bukan karena persoalan yang ada terlalu pelik atau solusi untuk menyelesaikannya terlalu rumit, melainkan ego.

Ego adalah biang kerok mengapa persoalan-persoalan remeh menjadi sulit kita selesaikan. Ia ada di belakang setiap maksud yang kekanak-kanakan, yang kemudian menyamarkannya dengan dalih yang santun dan beradab, meski seringkali gagal.

Ego yang biasa dimanjakan tak bisa dilawan dengan argumentasi yang masuk akal, bahkan seandainya itu terbukti benar. Kita jadi enggan berterus terang. Ketika pasangan kita sadar akan hal itu dan dengan kesal menanyakannya, kita tersinggung.

Ketika kita mengedepankan ego, saat itu kita sebenarnya tahu bahwa kita sedang memaksakan diri. Tapi karena tuntutan-tuntutan tak kasat mata di pundak kita (gengsi, misalnya), kita akan cenderung mengabaikannya, meski tak bisa sepenuhnya.

Ego tak berdampak apa-apa terhadap suatu masalah kecuali membuatnya semakin runyam. Kalau kita ingin menyelesaikan masalah sambil membiarkan ego kita terlibat maka bukan kebahagiaan yang kita dapat tapi keruwetan yang baru.

Jalan keluar sebuah masalah mungkin mengeluarkan kita dari masalah tersebut. Tapi tunggu beberapa saat, pelan-pelan ia akan menghadapkan kita pada masalah yang lain. Keluar mulut buaya, masuk mulut singa.

Masalah adalah satu hal, dan ego adalah hal lain. Menyelesaikan masalah dengan masalah, selain bertentangan dengan slogan Pegadaian, tempat favorit sebagian orang menjelang lebaran*, juga akan membuat kesucian Idul Fitri tercemar dan indahnya silaturahmi rusak.

pinkbackyardbirthdayparty-39
Sumber gambar: masseyteam.wordpress.com (https://goo.gl/6qjgWG)

Lalu, sementara kita memakai baju baru, memasak hidangan lezat, dan pergi ke tempat-tempat wisata, tak sedikit pun terlintas di kepala apakah itu hasil usaha mengekang hawa nafsu di bulan Ramadan atau sebuah pelampiasan.

Ayolah… Tak ada salahnya kita jujur pada diri sendiri. Benarkah euforia itu sebuah ungkapan syukur pada Yang Mahakuasa, atau itu sebenarnya ‘serangan balik’ hawa nafsu kita? Sebuah pelampiasan setelah sebulan penuh kita menuruti kemauan-Nya.

Orang dewasa tak selalu bisa berperilaku dewasa, dan terkadang mereka lebih payah ketimbang anak-anak. Kejujuran dan ketulusan yang saban hari kita ceramahkan pada anak-anak kadang sengaja kita lupakan, tak terkecuali pada momen lebaran.

Coba bandingkan dengan masa kecil kita, ketika lebaran adalah hari yang benar-benar pantas kita rayakan. Kita sibuk bergembira, tak ada waktu untuk melayani gengsi dan kepalsuan. Tak muluk, cukup dengan silaturahmi ke para tetangga dan sedikit uang saku dari sanak saudara.

*Meski tahun ini terjadi kemerosotan hingga 20%, lihat: https://goo.gl/Sia5Ka *dibahas 😝

Yang Satu Aparat Keamanan, Yang Satu Tukang Salon

Kita semua berubah…

Dua puluh tahun yang lalu, Amin dan Yayan hanya dua orang anak ingusan. Maksud saya, benar-benar ingusan. Saya mengenal mereka tak lama setelah pindah rumah dari pelosok sebuah desa di Kabupaten Pasuruan ke daerah pinggiran kota itu, Warungdowo.

Pertemanan saya dengan Amin dan Yayan semakin akrab saat memasuki usia sekolah dasar. Kalau sebelumnya kami hanya teman bermain dan mengaji, sejak saat itu kami juga menjadi teman satu sekolah. Tak sulit membayangkan kedekatan kami bertiga, karena di rumah, masjid, dan sekolah bermain bersama.

Amin yang dulu saya kenal adalah seorang penurut. Dia sering diminta membantu ibunya membersihkan rumah atau menjaga warung. Sedang Yayan adalah tipe anak mama. Saya sering kecewa saat asyik bermain dengannya lalu tiba-tiba mamanya memanggilnya agar tidur siang, “Yayaaan.., pulaaang!!!

Kalau saya ingat, tak satu pun di antara kami yang kelewat nakal. Amin penurut, Yayan anak mama, saya…cengeng. Ingatan itulah yang mengendap di kepala saya. Hingga dewasa, Amin dan Yayan yang saya kenal adalah dua anak yang polos dan lugu.

Baca juga:
Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?
Masruhin & Teman-teman Kambingnya

Lebaran tahun lalu, saya mengunjungi mereka. Amin punya ingatan cukup baik saat melihat saya berdiri di depan rumahnya, begitu pula Yayan. Selama lima jam lebih, kami larut dalam cerita tentang kebersamaan bertahun-tahun lalu. Tentang sawah tempat kami dulu kejar-kejaran, sungai tempat kami mencari ikan, dan malam-malam yang menyenangkan saat Ramadhan.

Amin kini bekerja sebagai penata rias, sedang Yayan aparat keamanan. Amin semula tak berterus terang sewaktu saya tanya tentang sebuah manekin dan perlengkapan rias di ruang tamunya.

“Aku kerja di pabrik obat. Itu kerjaan Mbakku,” katanya, seperti kurang nyaman dengan pertanyaan saya.

Baru setelah Yayan buka mulut, saya baru ngeh kalau Amin hanya nyamar menjadi sales obat. Profesi utamanya banyak bersentuhan dengan model-model cantik. Agaknya diam-diam dia bangga dengan hal ini. Foto profilnya di Blackberry Message (BBM) selalu berpose bareng gadis-gadis bening.

city-street-1246870_960_720
Sumber gambar: pixabay.com (https://goo.gl/Ut7mwP)

Percakapan kami terus bergulir hingga menyinggung soal perempuan. Meski sudah berkeluarga, Yayan masih bertanya-tanya tentang perempuan cantik yang mungkin bisa ditidurinya.

Saya tertawa mendengarnya, meski sebenarnya kurang nyaman. Dan seperti masa bodoh, ia malah bercerita tentang teman-temannya sesama aparat yang sering keluar-masuk panti pijat, tempat-tempat favoritnya untuk berkencan, dan teman-teman kuliah saya yang mungkin bisa ‘dipake’.

Amin tak terlalu banyak menanggapi, mungkin sudah hafal dengan kelakuan Yayan. Dan mengenai perempuan, ia hanya tertarik membicarakan model-model agensi itu dalam kaitan dengan pekerjaannya. Soal pacar, ia seperti menghalau kami agar tak coba-coba menanyakannya.

Setelah kembali ke Depok, saya kadang teringat pertemuan hari itu. Waktu mengubah segalanya. Rumah yang dulu saya tempati memang masih ada, tapi jadi terlihat lebih kecil, di samping sudah berubah menjadi bank. Jalan kampung yang dulu lebar, kini terlihat sempit. Parit tempat saya dan teman-teman dulu biasa buang air juga tampak menciut.

Namun, di antara sekian banyak perubahan yang saya temui, perubahan dalam diri dua sahabat saya itu yang paling sulit saya mengerti.

Mereka bukan hanya berbeda tapi juga kontradiktif. Bayangkan, yang satu aparat keamanan dan bertampang sangar, yang satu lagi penata rias dan suka ‘melambai’. Yang satu suka main perempuan, yang satu lagi seperti tak ada hasrat.

Setelah beberapa jam berbincang, saya juga merasakan kesenjangan di antara mereka. Keduanya seolah saling mengerti ‘batas-batas wilayah’ mereka. Selain mengenang masa kanak-kanak, ada beberapa hal yang Amin enggan menyinggungnya, begitu pula Yayan.

Saya bisa mengerti. Banyak hal yang mungkin terjadi di antara keduanya, dari masa-masa sekolah dasar hingga dewasa, ketika saya tak lagi bersama mereka. Tak berbeda, saya pun malas membahas hal-hal yang agak jauh dari dunia mereka. Itu hanya akan menambah jarak di antara kami bertiga.

Mungkin ada lebih banyak perubahan dan kontradiksi dalam diri teman-teman saya itu daripada yang bisa saya tuliskan. Meski begitu, sahabat tetap sahabat, sampai kapan pun. Kita semua manusia, dan setiap manusia pasti berubah. Itu bukan sesuatu yang aneh dan mengkhawatirkan. “Change is the only constant in life,” kata Heraklitus.

Lagipula, apa yang berbeda dan kontradiktif di antara mereka adalah apa yang kita lihat dalam perjalanan mereka sekarang. Sesuatu yang sifatnya sementara. Kita tak tahu, mungkin saja di depan sana ada persimpangan yang kelak mempertemukan keduanya. Mungkin juga perjalanan mereka saat ini tak lebih dari pilihan-pilihan yang mengarah pada ujung yang sama.

Perubahan adalah bukti bahwa masih ada kehidupan dalam diri kita. Seseorang berubah menjadi A, B, atau Z, saya pikir itu soal pilihan perjalanan. Dan, masing-masing kami sepertinya memilih jalan yang berbeda. Apa pun itu, semoga akhir dari perjalanan ini sama-sama baik. Husnul khatimah.

Depok, 13 April 2013, 7.04

Masjid & Sebuah Pilihan untuk Bahagia

Masjid-masjid lawas selalu memberikan rasa nyaman setiap kali saya singgahi. Pintu, ubin, pilar, dan langit-langitnya yang sudah tua menghadirkan suasana yang teduh dan damai.

Saya gemar dengan hal-hal yang bergaya retro: musik, film, furnitur, aksesoris, dan bangunan. Tapi, nuansa yang saya dapati di masjid-masjid tersebut rasanya jauh lebih menyenangkan ketimbang itu semua.

Masjid Jami’ Kota Malang ini salah satunya. Setiap pulang kampung, saya selalu menyempatkan diri berkunjung kemari. Shalat jamaah, membaca buku, atau sekadar melepas lelah dan menghabiskan waktu.

Ada ketenangan di setiap jengkal ruangannya. Ada perasaan bahagia yang pelan-pelan merasuk ke hati saya ketika melewati pilar-pilar besar dan pintu-pintu raksasanya. Dulu saat masih kuliah, setiap kali terbebani suatu masalah, udara di masjid ini selalu bisa membuat saya sejenak beristirahat darinya.

Baca juga:
Guru Masa Kecil
Lebaran: Apa yang Salah dengan Diri Kita?

Jangan membayangkan masjid ini seperti Istiqlal yang konon terbesar se-Asia Tenggara atau Baiturrahman yang keindahannya nyaris melegenda. Tidak, masjid ini tak sefenomenal kedua masjid itu.

Jangankan membandingkannya dengan Istiqlal dan Baiturrahman, menyebut masjid ini landmark Kota Malang pun rasanya terlalu memaksakan. Di samping tak memiliki keunikan, masjid ini juga bukan tempat terjadinya peristiwa bersejarah di masa silam.

Singkatnya, masjid ini dibangun sebagaimana masjid-masjid lain pada umumnya. Tak ada peristiwa besar yang meletarbelakangi pembangunannya, tak ada orang ternama yang menjadi saksi perjalanan sejarahnya.

Orang-orang datang, sembahyang, mendaras Al-Qur`an, dan mengikuti pengajian yang diadakan di dalamnya, sama seperti mereka melakukannya di banyak masjid yang lainnya.

***

Kita kadang mendapat kemudahan untuk memperoleh yang terbaik dalam hidup: tempat tinggal, kendaraan, sekolah, dan pekerjaan. Tapi seperti kita tahu, apa yang terbaik menurut kita ternyata tak selalu pas dengan apa yang kita inginkan.

Kebahagiaan tak selalu paralel dengan keberlimpahan, bahkan kemewahan. Seorang petani miskin di sebuah dusun terpencil bisa saja lebih bahagia ketimbang seorang eksekutif kaya-raya yang tinggal di apartemen mewah di tengah kota.

Kedua orang itu sama-sama memiliki kebutuhan dan masing-masing berusaha untuk memenuhi kebutuhannya. Orang pertama mungkin terlihat mati-matian menutupi biaya hidupnya, sedang orang kedua tampak optimis dan tak kesulitan memenuhinya. Logika sederhana mengatakan, orang pertama tak mungkin sebahagia orang kedua.

Namun, apa memang demikian kenyataannya? Belum tentu. Apa yang terlihat dari dua orang tersebut adalah kondisi ‘yang tampak’. Padahal, kebahagiaan adalah tentang ‘yang tak tampak’. Benar bahwa keberlimpahan atau kemewahan bisa membawa kebahagiaan, tapi tak selalu demikian.

Antara keberlimpahan (yang lebih bersifat fisik) dan kebahagiaan (yang merupakan kondisi mental) sebenarnya ada sebuah ‘jembatan’, penghubung yang menempatkan kedua kondisi itu sebagai sebab dan akibat. Jembatan itu adalah kesadaran.

Jika kesadaran menyatakan bahwa sepiring nasi itu nikmat dan cukup untuk mengusir lapar maka hati akan mengkondisikan dirinya untuk bahagia. Sebaliknya, jika kesadaran menyatakan bahwa sepiring nasi itu tak sesuai selera dan tak cukup mengenyangkan, dengan sendirinya hati akan mengkondisikan dirinya untuk bersedih.

Kita kadang mengira kebahagiaan bisa didapat dengan memiliki berbagai fasilitas hidup yang mewah. Kita mengartikan kebahagiaan sebagai kondisi yang tercipta akibat sesuatu yang datang dari luar. Padahal, kebahagiaan adalah akibat dari bagaimana hati kita menyikapi faktor-faktor eksternal itu.

Men_reading_the_Koran_in_Umayyad_Mosque,_Damascus,_Syria
Sumber gambar: myvoicecanada.com (https://goo.gl/oaABKa)

Persis seperti masjid yang sedang saya singgahi. Bangunan fisiknya mungkin biasa-biasa saja. Fasilitas dan ornamennya juga tak ada yang mewah. Tapi perasaan bahagia tatkala berada di dalamnya memalingkan saya dari kekurangan-kekurangan itu.

Perasaan seperti ini tentu subyektif. Bagi saya pribadi, selain karena masjid ini memang nyaman, ada kenangan-kenangan yang sulit saya lupakan di sini. Tapi, mungkin karena hal itu juga saya lantas memiliki perspektif yang positif dalam menyikapi faktor-faktor eksternal tersebut.

Hal-hal yang mengecewakan tak selalu bisa kita hindari. Bahkan ada banyak peristiwa menyedihkan terjadi di luar kendali kita. Ketika peristiwa-peristiwa itu terjadi, kita kadang merasa percuma berupaya mengubahnya.

Namun, dengan menyikapi semua itu secara benar, sama artinya kita mengolahnya menjadi bahan bakar kebahagiaan. Kuncinya ada pada kita: tak usah mati-matian menolaknya, kita tak akan kuat. Cukup geser sudut pandang kita, yang semula bertumpu pada kekurangan-kekurangan ke arah yang positif, yaitu kelebihan-kelebihan.

Nah sekarang, masjid mana yang menghadirkan kedamaian setiap kali kau singgahi?

 

Saya tulis saat berada di Masjid Jami’ Kota Malang, Agustus 2013/Ramadan 1434.