Radio, Gadget, & Pesantren yang Sedang Berubah

Pesantren bukan tempat untuk sesuatu yang muluk, apalagi soal hiburan. Saat masih nyantri dulu, hiburan yang saya dan teman-teman gemari adalah sandiwara radio. Seingat saya, RRI memutar siaran itu setiap Minggu sore.

Sandiwara radio yang kami tunggu-tunggu selepas Asar itu sebenarnya cerita anak-anak. Misalnya dongeng tentang Timun Mas, Tangkuban Perahu, atau paling dewasa kisah Walisongo.

Meski begitu, bagi kami itu adalah hiburan mewah. Kami rela menunda mandi atau mengambil jatah makan hanya untuk mendengarkannya, meski saat itu kami sudah berkalung handuk atau membawa piring dan sendok.

Oh ya, yang saya maksud dengan “teman-teman sesama santri” itu termasuk para senior yang usianya dua puluh tahunan ya!

Baca juga:
Masruhin & Teman-teman Kambingnya
Pesantren & Mereka yang ‘Tersiksa’ di Dalamnya

Anak-anak yang tak pernah mondok mungkin lebih familiar dengan Nintendo atau video Betamax. Kalau ada yang mau menyalakan radio, paling cuma ingin mendengar lagu atau siaran sepak bola. Itu pun kalau tivi mereka sedang dikuasai orangtuanya.

Sebenarnya pesantren tak mengizinkan kami membawa benda elektronik apa pun, termasuk setrika dan (apalagi) radio. Barang paling canggih yang kami miliki saat itu paling-paling jam tangan dan kalkulator. Itu juga tak semua punya.

Radio yang ada di kamar kami, mungkin satu-satunya di pesantren putra, sebenarnya barang haram. Kami bisa menggunakannya lantaran kamar kami jauh dari kantor pengurus, di samping senior kami berhasil melobi bagian keamanan.

Tentu saja kami berutang budi padanya. Di samping telaten membangunkan kami menjelang Subuh dan bersedia menjadi tempat kami meminjam uang, ia juga menyelamatkan kami dari masa-masa puber yang ganjil karena minimnya hiburan.

Entah bagaimana caranya melobi. Yang jelas, bagian keamanan waktu itu adalah orang yang paling kami takuti. Tinggi, besar, brewok. Kami bergidik setiap kali ia mendekat. Subhanallah-nya, ia didapuk sebagai guru ngaji saat kami kelas tiga MTs.

Mengenai sosok yang satu ini, saya akan mencari waktu tersendiri untuk menceritakannya.

Kembali ke soal radio. Jadi, itu pelanggaran? Begitulah. Tapi yang namanya kesalahan, kalau dilakukan bersama dan berulang-ulang ya akan dianggap kewajaran. Apalagi para senior dan bahkan bagian keamanan yang kami takuti itu sesekali nimbrung.

Setelah belasan tahun lulus dan jarang berkunjung, beberapa teman mengabarkan perubahan-perubahan di pesantren masa remaja saya itu. Tentu, di zaman serba gadget seperti sekarang, sandiwara radio itu sudah tak ada lagi yang berminat.

vintage-radio-1.jpg
Sumber gambar: demo.woothemes.com (https://goo.gl/fZHezP)

Apakah radio masih langka di sana? Mungkin. Bukan karena tak satu pun santri mampu membelinya, tapi karena tak satu pun mereka sudi memilikinya. Ini zaman hengpon, ingat? Buat apa radio, kalau sekarang mereka sudah punya ponsel pintar?

Kalau mereka masih tak diperkenankan membawa perangkat elektronik, mungkin kondisinya tak jauh berbeda dengan saat saya mondok di sana, tujuh belas tahun yang lalu. Semua kami lakukan bersama-sama: belajar, makan, tidur, dan bermain.

Kalau sekarang benda-benda itu tak dilarang? Bayangkan ini: puluhan anak tinggal di kamar yang sama, mengaji di ruangan yang sama, makan di kantin yang sama, tidur di atas alas yang sama, tapi tak seperti dulu, mereka jarang sekali benar-benar menghabiskan waktu bersama.

Tak ada yang berdiskusi soal tugas mengaji, berbincang tentang klub bola kesayangannya, atau berbisik-bisik tentang santri baru di pondok putri. Kumpul-kumpul tanpa diperintah pun, seperti dulu kami lakukan saat bersama-sama mendengarkan radio, jarang ada yang melakukan.

Saya jadi ingat bagaimana dulu orangtua para santri membujuk anaknya agar betah di pesantren, “Di sini banyak temannya.” Dulu, itu relevan. Sekarang?* Di rumah atau di pesantren hampir tak ada bedanya. Teman karib anak-anak ya gadget mereka, dan karenanya, mereka tak butuh banyak teman.

Ah, tapi semoga semua itu hanya imajinasi liar kita. Kalau benar terjadi, seperti apa masa depan santri-santri jika di pesantren mereka sudah terbiasa hidup di dunia maya, tempat yang tak ubahnya dinding imajiner yang memenjara mereka dari dunia nyata?

Ciganjur, 14 Juli 2017 (16.04)

 

*Pesantren memang sedang berubah. Tak selalu ke arah yang buruk, tentunya. Gus Helmi, teman sekamar dan sekelas saya di Madrasah Aliyah, sering bercerita tentang prestasi santri-santri di pondok kami dulu, di samping ‘perubahan yang lain’. Kalau dulu orangtua santri bertanya kitab apa yang dikaji di pesantren, sekarang mereka bertanya menu apa yang disiapkan untuk makan anaknya. Kalau dulu santri-santri masa bodoh tidur tanpa alas (dan justru meyakininya sebagai salah satu bentuk tirakat), sekarang mereka maunya tidur di atas kasur. Well, everything has changed!

 

4 thoughts on “Radio, Gadget, & Pesantren yang Sedang Berubah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s