Memaafkan Memang Tak Pernah Mudah

Kita tahu, tak mudah memberikan maaf. Kata orang-orang, hanya mereka yang punya kebesaran hati yang bisa melakukannya.

Maaf dianggap terlalu mahal untuk diberikan cuma-cuma. Apalagi jika orang yang melukai hati kita tak menunjukkan penyesalan atau itikad baik untuk menebus perbuatannya. Kalau memang niat mencari masalah, buat apa meminta maaf? Begitu ego kita bicara.

Sama halnya dengan memaafkan, membalas perbuatan buruk orang lain juga bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Semua sepakat, dendam itu mengerikan bahkan hanya untuk dibayangkan. Tapi kalau kita merasakan sendiri sakit hati akibat ulah orang lain, kita mungkin tergoda untuk melampiaskannya.

adventure-1840292_960_720
Sumber gambar: pixabay.com (https://goo.gl/56anGf)

Dua hal yang tak mudah dilakukan itu, yang satu karena terlalu baik sementara yang satu karena terlalu buruk, memaksa kita melihat alternatif berikutnya: melupakan.

Melupakan mungkin tak mudah, tapi murah. Kita tinggal mengalihkan fokus dari masalah, lalu melanjutkan hidup seperti orang yang tak pernah terluka. Awalnya tentu tak mudah. Kita mungkin perlu berpura-pura dulu bahwa semua sudah berlalu.

Akan tetapi, melupakan ternyata hanya soal waktu. Ketika ingatan tentang suatu luka itu datang, kita merasakan kembali rasa sakit yang pernah ada. Ada yang bilang, ingatan tentang suatu kesedihan lebih memilukan dibanding kesedihan itu sendiri.

Terus, piye?

Memaafkan mahal, membalas butuh niat jahat (ini modal juga, kan?), dan melupakan sebenarnya bukan solusi tapi justru masalah baru lagi. Bagaimana jika kita tak memilih? Berdiam diri sambil pasrah terhadap nasib?

Mungkin itu bisa jadi pilihan yang lain, tapi siapa pun yang setuju mungkin perlu segera memeriksakan kesehatan (jiwanya). Sulit membayangkan betapa tersiksanya orang yang enggan memaafkan, membalas, sekaligus melupakan. Mirip orang yang dilarang makan gula, garam, dan jeroan karena komplikasi penyakit.

Jadi sebelum terlambat, bagaimana jika kita mempertimbangkan lagi pilihan yang pertama? Tak perlu memaksakan diri. Bayangkan saja kedamaian yang akan kita peroleh dengannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s