Membaca Kembali Buku “Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain”

Nama Dale Carnegie pertama kali saya kenal saat duduk di bangku SMA. Saat itu saya membaca karyanya yang berjudul Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain, terjemahan How to Win Friends and Influence People, di perpustakaan.

Awalnya saya bingung. Apa yang menarik dari buku ini? Cara bertuturnya formal, pilihan katanya jadul, dan tak satu pun halamannya bergambar.

Baca juga:
Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?
Orkestra dan Sebuah Tempat yang Jauh

Kesan itu berubah saat saya membaca kisah-kisah di dalamnya. Meski berupa potongan-potongan cerita, penulisnya tampak lihai menyampaikannya sambil tetap fokus pada topik yang sedang ia bahas.

Beberapa kalimat indah dalam buku ini lalu saya tulis di buku catatan. Sebagian malah ada yang saya hafalkan.

Kesibukan di pesantren dan selanjutnya di kampus membuat saya lupa dengan buku ini. Yang tersisa hanya ingatan tentang sebuah buku yang inspiratif. Baru setelah bekerja di penerbit dan sering berkunjung ke toko buku saya berjumpa lagi dengannya.

Saya langsung ‘kangen-kangenan’ dengan buku ini. Saya bolak-balik halamannya dan saya baca kembali kisah-kisahnya. Saya juga membeli buku-buku lain karya penulis yang sama dan mengirimkannya ke beberapa teman.

how-to-win-friends-and-influence-people
Sumber gambar: http://scbks.blogspot.sg/

Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain disebut-sebut bestseller sepanjang masa. Buku ini pertama kali dicetak pada 1936 di Amerika Serikat dan hingga kini sudah terjual sebanyak 30 juta kopi.

Teknik penulisan yang menarik bukan satu-satunya kelebihan buku ini. Uraiannya tentang bagaimana menjalin hubungan dengan sesama juga tak kalah memikat. Berkali-kali kita diingatkan agar pandai mengendalikan ego dan bersimpati secara tulus pada orang lain.

Kesuksesan dalam banyak hal mustahil diraih jika kita terpaku pada upaya memenangkan ego kita, lalu memaksa orang lain menuruti kemauan kita. Begitu kurang lebih pesan penulis.

Membolak-balik buku ini mengingatkan saya pada kitab-kitab akhlak. Melihat latar belakang penulisnya sebagai seorang pengusaha, menarik saat kita mencermati uraiannya tentang keikhlasan.

Selama ini keikhlasan selalu dikaitkan dengan agama. Dan karena sebagian orang menjaga jarak dengannya, dengan alasan bahwa agama irasional dan kuno, mereka menganggap keikhlasan tak lebih sekadar omong kosong.

Menurut saya, di sinilah salah satu daya tarik buku ini. Meski tak bicara dalam konteks keagamaan, Penulis menekankan keikhlasan sebagai kunci sukses dalam usaha meraih cita-cita apa pun, kapan pun, dan di mana pun.

Artinya, bahkan dalam urusan yang melulu bicara tentang duit dan duit pun, keikhlasan tetap harus dijunjung tinggi. Itu adalah kunci bagi siapa pun yang ingin sukses dan bahagia, sebagaimana fokus utama buku ini.

 

Filosofi Ngopi Sebelum Filosofi Kopi

Jauh sebelum Dewi Lestari menulis Filosofi Kopi, orang-orang sudah mencari makna di balik kegemaran mereka minum kopi, atau yang lebih akrab di telinga kita dengan istilah ‘ngopi’.

Ngopi sejatinya tak sekadar minum kopi. Penyederhanaan istilah ‘minum kopi’ menjadi ‘ngopi’ justru menunjukkan kompleksitas kegiatan tersebut.

Ada yang menganggap ngopi sebagai keisengan untuk mengisi waktu luang. Saya kurang setuju. Mereka yang sedang ngopi bisa jadi malah sedang fokus berpikir, merenung, bertukar ide, atau mencurahkan isi hati.

Ada relasi yang sedang mereka bangun, entah dengan dirinya sendiri atau orang lain.

Baca juga:
Adakah yang Tak Berubah dari Diri Kita?
Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?

Saat ini ngopi sudah menjadi gaya hidup. Di tempat kerja saya, beberapa teman membawa kopi dari berbagai jenis dan merek. Ada kopi Gayo, Lampung, Sidikalang, dan Toraja. Teman-teman yang fanatik tahu bedanya kopi-kopi itu, tapi di lidah saya semua nyaris sama. Maklum, saya tahunya cuma kopi Liong.

Kalau baru pulang liburan, sering mereka membawa oleh-oleh kopi asli dari kota yang mereka kunjungi. Dan beberapa hari kemudian, perbincangan di antara teman-teman tak jauh-jauh dari kopi tersebut. Sembari beristirahat di sela-sela pekerjaan, mereka saling mencicipi kopi itu.

Kadang teman-teman juga mengajak saya ngopi di luar. Kalau sedang sama-sama bokek, kami ngopi di warkop pinggir jalan. Kalau awal bulan ada bonus gaji yang lumayan, kami ngopi di kedai kopi yang lumayan bagus. Kebetulan di dekat kantor ada kedai kopi yang punya koleksi biji kopi berkualitas dari berbagai daerah di Indonesia.

people-2592338_1920
Sumber gambar: pixabay.com (https://goo.gl/Tv1zAz)

Banyak pengusaha yang melihat peluang menjanjikan dari bisnis ini mulai mendirikan kedai kopi. Mereka tak pusing mencari barista, sebab mesin penyeduh kopi banyak dijual di pasaran. Lagipula kalau dicermati, yang kebanyakan orang cari bukan citarasa kopinya tapi tempat nongkrongnya.

Itu sebabnya, tak sedikit kedai kopi yang desain interiornya dibuat sedemikian rupa sehingga pelanggan betah berlama-lama di dalamnya. Menu kopinya sih itu-itu saja, tapi tukang rumpi dan maniak selfie tak akan ragu menghabiskan waktu untuk saling curhat sampai dower atau cekrak-cekrek sepuasnya.

Apa itu berarti kopi tak lebih sekadar pelengkap saat kita nongkrong? Saya yakin para penikmat kopi tak sependapat. Kopi memang kadung lekat sebagai teman saat kita berbincang. Tapi yang lebih penting, ia adalah media ‘pemersatu’. Minimal menyatukan mereka yang betah melek dan ngobrol di meja yang sama.

Kopi punya kemampuan untuk mencairkan suasana dan mendekatkan emosi para penikmatnya, yang membuat perbincangan mereka cair dan hangat. Mungkin, ini yang membuat banyak orang nyaman berbincang sambil minum kopi, meski mungkin topik perbincangan mereka agak serius.

Membicarakan masalah serius sembari minum kopi akan membuat kerawanan-kerawanan diskusi lebih mudah dihindari. Kebuntuan berpikir, kesalahpahaman dengan lawan bicara, bahkan kekeliruan mengambil keputusan lebih sedikit kemungkinannya untuk terjadi.

Secara mental, ngopi mengkondisikan kita untuk rileks. Ini sangat berbeda jika kita berada di ruang rapat atau tempat lain yang bersifat formal. Di kedai kopi, atribut pekerjaan tak begitu berarti. Kita adalah kita yang sesungguhnya, tanpa embel-embel pangkat atau jabatan.

Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?

Pernah tidak bertanya dalam hati, mengapa lagu-lagu zaman dulu tak pernah membosankan, malah semakin enak didengar?

Beberapa waktu yang lalu istri saya heran, kok playlist di laptop saya isinya lagu-lagu jadul semua. Ada lagu Barat tahun 60-70-an, tembang kenangan, lagu era 90-an, dan keroncong Jawa.

“Pantesan suka nembang,” katanya, setelah saya setengah jam jongkok di jamban sambil nembang ala kadarnya. “Lagunya jadul-jadul semua sih.”

Entah kenapa, ada keasyikan tersendiri setiap saya mendengar lagu-lagu lawas. Frank Sinatra, Everly Brothers, Broery Marantika, Chrisye, hingga Soendari Soekotjo adalah beberapa nama yang masih saya dengarkan lagu-lagunya, sampai sekarang.

Dibandingkan lagu-lagu baru, lagu-lagu zaman dulu rasanya tak mudah membosankan. Ada yang bilang karena liriknya, ada juga yang menyebut nada lagunya. Saya sendiri lebih percaya pada faktor X di dalamnya: sesuatu yang berasal dari masa lalu memang selalu asyik untuk dinikmati kembali.

Baca juga:
Seandainya Kita Bisa Kembali Menjadi Anak-anak
Berkunjung ke Masa Lalu

Nostalgia, begitu kata orang-orang. Kalau mendengar lagu jadul, saya memang mudah membayangkan suasana yang digambarkan oleh lagu itu.

Mungkin, ini sama dengan membuka album foto yang dibuat bertahun-tahun yang lalu. Foto-foto itu mungkin sudah usang dan gambarnya mulai pudar, tapi kita tetap menyukainya. Mengapa? Karena kita tak hanya melihat kumpulan gambar diri kita atau mereka yang kita cintai, tapi juga merasakan kembali apa yang dulu pernah kita alami.

Ingatan membawa kita ke masa-masa ketika foto itu dibuat…

Ada ruang keluarga tempat kita bercengkerama dengan orangtua, teras tempat kita bermain sepulang dari sekolah, televisi dan mainan yang setia menemani kita, dan tentu saja orang-orang yang kita cintai.

Kalau foto orang terkasih yang sudah tiada kita temukan juga di album itu, kita akan semakin ‘terhisap’ ke dalam ingatan tentang masa lalu. Kita seperti hidup di masa-masa itu, saat masih bersamanya.

wp-image--1853202222

Mendengar lagu-lagu lawas tak berbeda. Kita bukan hanya mendengar atau menikmati suara indah penyanyinya, tapi juga mengenang. Mengenang sebuah nama, cerita, rasa, mungkin juga tawa dan air mata.

Apa yang dulu kita rasakan seolah hadir kembali. Apalagi jika lagu itu menggambarkan pengalaman pribadi kita, tentang kisah cinta kita misalnya.

Ini adalah topik yang selalu laris di dunia buku (novel, khususnya), film, dan tentu saja musik. Orang-orang menyukainya karena topik itu universal sekaligus bisa sangat personal.

Siapa yang tak pernah merasakan cinta? Atau, siapa yang masa mudanya tak berwarna-warni karena masalah cinta? Semua orang pernah merasakannya: naksir diam-diam, cinta buta pada pacar, cemburu tanpa sebab, ditolak, digantung, kangen mantan, atau tak direstui teman sekos-kosan.

Seiring waktu yang terus berganti, rasa itu menjadi penghuni tetap ingatan kita. Kita tak pernah berusaha melupakan atau setengah mati menjaganya. Mungkin sesekali saja menengoknya. Salah satunya saat kita mendengarkan lagu yang kebetulan bertutur tentangnya.

 

Memaafkan Memang Tak Pernah Mudah

Kita tahu, tak mudah memberikan maaf. Kata orang-orang, hanya mereka yang punya kebesaran hati yang bisa melakukannya.

Maaf dianggap terlalu mahal untuk diberikan cuma-cuma. Apalagi jika orang yang melukai hati kita tak menunjukkan penyesalan atau itikad baik untuk menebus perbuatannya. Kalau memang niat mencari masalah, buat apa meminta maaf? Begitu ego kita bicara.

Sama halnya dengan memaafkan, membalas perbuatan buruk orang lain juga bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Semua sepakat, dendam itu mengerikan bahkan hanya untuk dibayangkan. Tapi kalau kita merasakan sendiri sakit hati akibat ulah orang lain, kita mungkin tergoda untuk melampiaskannya.

adventure-1840292_960_720
Sumber gambar: pixabay.com (https://goo.gl/56anGf)

Dua hal yang tak mudah dilakukan itu, yang satu karena terlalu baik sementara yang satu karena terlalu buruk, memaksa kita melihat alternatif berikutnya: melupakan.

Melupakan mungkin tak mudah, tapi murah. Kita tinggal mengalihkan fokus dari masalah, lalu melanjutkan hidup seperti orang yang tak pernah terluka. Awalnya tentu tak mudah. Kita mungkin perlu berpura-pura dulu bahwa semua sudah berlalu.

Akan tetapi, melupakan ternyata hanya soal waktu. Ketika ingatan tentang suatu luka itu datang, kita merasakan kembali rasa sakit yang pernah ada. Ada yang bilang, ingatan tentang suatu kesedihan lebih memilukan dibanding kesedihan itu sendiri.

Terus, piye?

Memaafkan mahal, membalas butuh niat jahat (ini modal juga, kan?), dan melupakan sebenarnya bukan solusi tapi justru masalah baru lagi. Bagaimana jika kita tak memilih? Berdiam diri sambil pasrah terhadap nasib?

Mungkin itu bisa jadi pilihan yang lain, tapi siapa pun yang setuju mungkin perlu segera memeriksakan kesehatan (jiwanya). Sulit membayangkan betapa tersiksanya orang yang enggan memaafkan, membalas, sekaligus melupakan. Mirip orang yang dilarang makan gula, garam, dan jeroan karena komplikasi penyakit.

Jadi sebelum terlambat, bagaimana jika kita mempertimbangkan lagi pilihan yang pertama? Tak perlu memaksakan diri. Bayangkan saja kedamaian yang akan kita peroleh dengannya.

Seandainya Kita Bisa Kembali Menjadi Anak-anak

Kadang ingin rasanya saya kembali menjadi anak-anak. Hari demi hari saya habiskan untuk bermain, tertawa, bertengkar, menangis, lalu tertawa lagi. Indah jika hidup tak memikirkan deadline pekerjaan atau cicilan kendaraan.

Saya masih ingat. Dulu, setiap kali Bapak, Ibu, dan kakak-kakak saya berbicang tentang sesuatu yang serius, saya pasti disuruh pergi. Bermain ke rumah tetangga, jalan-jalan ke sawah, atau ke mana saja agar saya tak mendengar “perbincangan orang-orang dewasa”.

Baca juga:
Guru Masa Kecil
Sekali Lagi Tentang ‘Berkunjung’ ke Masa Lalu

Maka, yang saya rasakan saat itu adalah masa kanak-kanak yang menyenangkan. Saya tahu, keluarga saya tak selalu bahagia. Tapi, Bapak dan Ibu saya berani menjanjikan saya masa depan yang baik-baik saja.

Dua puluh tahun sejak masa-masa itu, saya semakin mudah membayangkan beratnya beban keluarga saya kala itu. Bukan perkara mudah bagi siapa pun yang tinggal serumah dengan kami untuk terlihat baik-baik saja. Tapi Bapak, Ibu, dan kakak-kakak saya berhasil melewatinya.

Coffee-Shop-1024x768
Sumber gambar: stockography.co (https://goo.gl/sPKGR6)

 

Kalau sadar masa-masa paling membahagiakan dalam hidup saya bersamaan dengan masa-masa paling sulit dalam keluarga, saya jadi merasa bersalah berkhayal menjadi anak-anak. Sebab, itu berarti saya merayakan saat-saat keluarga saya berada di titik terendah dalam hidup mereka.

Saya jadi ingin menganulir. Daripada kembali menjadi anak-anak, mungkin lebih baik kalau saat itu saya sudah dewasa. Menjadi anak pertama, mungkin? Agar sedikit-sedikit saya bisa meringankan beban Bapak. Menjadi tempatnya bertukar pikiran atau mencurahkan perasaan.

Di samping saya bisa bertanya tentang impian-impian dan petualangannya saat masih bujangan.

Masruhin & Teman-teman Kambingnya

Kami memanggilnya Ruhin. Nama lengkapnya Masruhin. Meski langganan dihukum kepala kamar, ia sebenarnya anak yang baik. Kalau hanya telat jamaah atau kabur dari sekolah, kami semua pernah melakukannya.

Saya kenal Ruhin saat masuk Madrasah Aliyah. Kebetulan kami menempati kamar yang sama, belajar di sekolah yang sama, dan mengaji di tempat yang sama. Semula ia tampak canggung berada di antara teman-teman. Tapi, lama-lama ia sering membuat mereka senewen dan hilang nafsu makan.

Baca juga:
Pesantren & Mereka yang ‘Tersiksa’ di Dalamnya
Radio, Gadget, & Pesantren yang Sedang Berubah

Untuk memahami sahabat saya yang satu ini, kita bisa menggambarkannya dengan dua kata: masa bodoh dan tukang debat. Dua kata itu mungkin kurang representatif, tapi minimal cukup untuk menunjukkannya sebagai anomali dari teman-teman saya yang lain.

Masa bodoh bisa dibilang ciri khas Masruhin. Ia memang kombinasi berbagai macam karakter (jenius, jayus, cuek, sembrono, dll), sama seperti manusia lainnya. Tapi tanpa masa bodohnya, Ruhin tak ubahnya sesosok makhluk yang asing dan tak pernah kami kenal. Atau tanpa masa bodohnya, Ruhin mungkin tak pernah ada.

Saya sendiri sulit membayangkan Ruhin tanpa masa bodohnya. Saking tak terpisahkannya, suatu saat nanti saya yakin KBBI akan menyerah dan mencantumkan namanya sebagai sinonim masa bodoh. Salah satu contoh sikap masa bodohnya Ruhin bisa kita lihat dalam cerita berikut.

Sepulang dari sekolah, di bawah terik siang yang menyengat, seorang teman (Andik namanya) memungut sebuah nagasari di halaman kamar kami. Karena terburu-buru mengambil wudhu agar bisa berjamaah Zuhur, ia meletakkan makanan basi itu di kusen jendela.

Nagasari itu adalah jajan tak termakan dari hari sebelumnya, yang dibawa seorang wali santri saat menjenguk anaknya. Karena sudah tak layak makan, makanan itu dibuang ke halaman, entah oleh siapa. Andik memungut nagasari itu untuk diberikan pada burung-burung milik Kyai.

Meski seisi kamar sedang terburu-buru untuk mengejar jamaah Zuhur, Ruhin melenggang santai di antara mereka. Bukannya ke tempat wudhu, ia malah merebahkan badannya di lantai, tepat di bawah jendela tempat Andik meletakkan nagasari.

Melihat nagasari tak bertuan ada di dekatnya, ia menggapai makanan itu, membuka daun pisang pembungkusnya, mengendusnya tanpa curiga, dan hap!, benda tak berdosa itu pun lumat di mulutnya sebelum meluncur ke dalam perutnya.

Ketika jamaah bubar dan Andik kembali ke kamar, ia melihat nagasari yang dipungutnya sudah tak di tempatnya semula. Di dekatnya, sambil terduduk dan dengan tatapan kosong, Ruhin menelan gigitan terakhir nagasari yang ditemukannya.

“Makan apa, Hin?” Andik curiga.
“Nagasari,” jawab Ruhin, singkat.
“Dapat dari mana?”
“Tadi di jendela situ.”

Andik menepuk kening.

“Itu basi, pisangnya mau aku kasih ke burung-burungnya Kyai!”
“Basi gimana, wong masih hangat, kok.” Ruhin menjawab sambil nyengir kuda.

Tentu saja masih hangat. Andik memungutnya saat benda itu tergolek tak berdaya di bawah sengatan matahari, sejak pagi sampai tengah hari! Tapi mau dijelaskan bagaimana pun, nasi sudah menjadi karak. Lagipula, Ruhin bergeming mendengar kata-kata temannya itu.

“Biarin wis,” ia membela diri, “gak, gak, kalo mati…”

Masruhin yang saya kenal juga seorang pria yang sering menjelma cobaan berat bagi teman-temannya. Bukan karena suka jahil atau punya kebiasaan ganjil, tapi karena susah dikasih tahu. Siapa pun yang bicara padanya, ia tak akan segan mendebatnya.

Ia memang jago debat, dengan atau tanpa argumen. Debat apa saja, dari fikih, tugas sekolah, ramalan cuaca, sampai siapa pemilik sempak yang tertinggal di WC ustadz. Kalau sedang kambuh, ada teman batuk pun ia debat. Kalau tengah malam ada yang mengigau juga ia debat. Saya baru mau bersin, ia sudah ancang-ancang mendebat.

Debat kusir antara Ruhin dan teman-teman, tak terkecuali saya, kadang lebih mirip eyel-eyelan-nya Kartolo dan Sapari.

“Buruan!” Saya tak sabar menunggunya untuk pergi ke sekolah.
“Kelasnya masih dikunci…” jawabnya, santai.
“Udah dibuka!”
“Belum ada muridnya.”
“Udah berangkat semua, kok (saya mulai panas)!”
“Paling mampir kantin dulu…”
“Kantinnya gak jualan!”
“Ya wis, nanti aku yang jualan.”
“Dimarahin Pak Mursyidi!”
“Aku laporin Pak Ridwan!”
“Aku bilangin Kyai!”
“Aku bilangin Gusti Allah!”

Dan yang waras pun akhirnya mengalah…

Meski tiap membahas Ruhin yang saya ingat adalah dua kata itu, ia sebenarnya juga anak yang penyabar. Saya dan teman-teman seangkatan tahu, mau di pondok atau di sekolah, Ruhin sering menjadi korban ledekan.

Meski begitu, ledekan demi ledekan yang dilontarkan padanya ibarat angin di telinganya. Sama halnya saat dipuji, ia pun tak bereaksi saat diledek teman-teman. Paling-paling menengok sebentar, menggerak-gerakkan bibirnya yang eksotis, lalu melanjutkan kesibukannya.

Seolah-olah kami ini tak ada…

sheep1
Sumber gambar: animalsaustralia.org (https://goo.gl/Wpxtii)

Seorang teman yang tak sengaja membahas Ruhin berkelakar, jangan-jangan teman kami itu sudah sampai pada maqam orang yang ikhlas. Orang yang, kata Kyai dulu, tak lagi punya hasrat dengan pujian atau cemas dengan cemoohan.

Itu mungkin lucu-lucuan teman saya saja. Tapi, siapa yang bisa memastikan kalau itu tak benar?

Persis seperti kita yang tak memedulikan teriakan kambing setiap kali melintas di dekatnya, mereka yang ikhlas juga tak menghiraukan kata-kata manis atau hujatan pedas orang lain. Keduanya sama: sama-sama tak penting.

Saya tertawa mendengar guyonan teman tersebut. Tapi kalau itu benar, saya dan teman-teman harus segera tobat dan minta maaf pada Masruhin. Entah sudah berapa kali kami bertingkah kurang ajar padanya.

Kalau kami sampai kualat, bagaimana?

Radio, Gadget, & Pesantren yang Sedang Berubah

Pesantren bukan tempat untuk sesuatu yang muluk, apalagi soal hiburan. Saat masih nyantri dulu, hiburan yang saya dan teman-teman gemari adalah sandiwara radio. Seingat saya, RRI memutar siaran itu setiap Minggu sore.

Sandiwara radio yang kami tunggu-tunggu selepas Asar itu sebenarnya cerita anak-anak. Misalnya dongeng tentang Timun Mas, Tangkuban Perahu, atau paling dewasa kisah Walisongo.

Meski begitu, bagi kami itu adalah hiburan mewah. Kami rela menunda mandi atau mengambil jatah makan hanya untuk mendengarkannya, meski saat itu kami sudah berkalung handuk atau membawa piring dan sendok.

Oh ya, yang saya maksud dengan “teman-teman sesama santri” itu termasuk para senior yang usianya dua puluh tahunan ya!

Baca juga:
Masruhin & Teman-teman Kambingnya
Pesantren & Mereka yang ‘Tersiksa’ di Dalamnya

Anak-anak yang tak pernah mondok mungkin lebih familiar dengan Nintendo atau video Betamax. Kalau ada yang mau menyalakan radio, paling cuma ingin mendengar lagu atau siaran sepak bola. Itu pun kalau tivi mereka sedang dikuasai orangtuanya.

Sebenarnya pesantren tak mengizinkan kami membawa benda elektronik apa pun, termasuk setrika dan (apalagi) radio. Barang paling canggih yang kami miliki saat itu paling-paling jam tangan dan kalkulator. Itu juga tak semua punya.

Radio yang ada di kamar kami, mungkin satu-satunya di pesantren putra, sebenarnya barang haram. Kami bisa menggunakannya lantaran kamar kami jauh dari kantor pengurus, di samping senior kami berhasil melobi bagian keamanan.

Tentu saja kami berutang budi padanya. Di samping telaten membangunkan kami menjelang Subuh dan bersedia menjadi tempat kami meminjam uang, ia juga menyelamatkan kami dari masa-masa puber yang ganjil karena minimnya hiburan.

Entah bagaimana caranya melobi. Yang jelas, bagian keamanan waktu itu adalah orang yang paling kami takuti. Tinggi, besar, brewok. Kami bergidik setiap kali ia mendekat. Subhanallah-nya, ia didapuk sebagai guru ngaji saat kami kelas tiga MTs.

Mengenai sosok yang satu ini, saya akan mencari waktu tersendiri untuk menceritakannya.

Kembali ke soal radio. Jadi, itu pelanggaran? Begitulah. Tapi yang namanya kesalahan, kalau dilakukan bersama dan berulang-ulang ya akan dianggap kewajaran. Apalagi para senior dan bahkan bagian keamanan yang kami takuti itu sesekali nimbrung.

Setelah belasan tahun lulus dan jarang berkunjung, beberapa teman mengabarkan perubahan-perubahan di pesantren masa remaja saya itu. Tentu, di zaman serba gadget seperti sekarang, sandiwara radio itu sudah tak ada lagi yang berminat.

vintage-radio-1.jpg
Sumber gambar: demo.woothemes.com (https://goo.gl/fZHezP)

Apakah radio masih langka di sana? Mungkin. Bukan karena tak satu pun santri mampu membelinya, tapi karena tak satu pun mereka sudi memilikinya. Ini zaman hengpon, ingat? Buat apa radio, kalau sekarang mereka sudah punya ponsel pintar?

Kalau mereka masih tak diperkenankan membawa perangkat elektronik, mungkin kondisinya tak jauh berbeda dengan saat saya mondok di sana, tujuh belas tahun yang lalu. Semua kami lakukan bersama-sama: belajar, makan, tidur, dan bermain.

Kalau sekarang benda-benda itu tak dilarang? Bayangkan ini: puluhan anak tinggal di kamar yang sama, mengaji di ruangan yang sama, makan di kantin yang sama, tidur di atas alas yang sama, tapi tak seperti dulu, mereka jarang sekali benar-benar menghabiskan waktu bersama.

Tak ada yang berdiskusi soal tugas mengaji, berbincang tentang klub bola kesayangannya, atau berbisik-bisik tentang santri baru di pondok putri. Kumpul-kumpul tanpa diperintah pun, seperti dulu kami lakukan saat bersama-sama mendengarkan radio, jarang ada yang melakukan.

Saya jadi ingat bagaimana dulu orangtua para santri membujuk anaknya agar betah di pesantren, “Di sini banyak temannya.” Dulu, itu relevan. Sekarang?* Di rumah atau di pesantren hampir tak ada bedanya. Teman karib anak-anak ya gadget mereka, dan karenanya, mereka tak butuh banyak teman.

Ah, tapi semoga semua itu hanya imajinasi liar kita. Kalau benar terjadi, seperti apa masa depan santri-santri jika di pesantren mereka sudah terbiasa hidup di dunia maya, tempat yang tak ubahnya dinding imajiner yang memenjara mereka dari dunia nyata?

Ciganjur, 14 Juli 2017 (16.04)

 

*Pesantren memang sedang berubah. Tak selalu ke arah yang buruk, tentunya. Gus Helmi, teman sekamar dan sekelas saya di Madrasah Aliyah, sering bercerita tentang prestasi santri-santri di pondok kami dulu, di samping ‘perubahan yang lain’. Kalau dulu orangtua santri bertanya kitab apa yang dikaji di pesantren, sekarang mereka bertanya menu apa yang disiapkan untuk makan anaknya. Kalau dulu santri-santri masa bodoh tidur tanpa alas (dan justru meyakininya sebagai salah satu bentuk tirakat), sekarang mereka maunya tidur di atas kasur. Well, everything has changed!