Masruhin & Teman-teman Kambingnya

Kami memanggilnya Ruhin. Nama lengkapnya Masruhin. Meski langganan dihukum kepala kamar, ia sebenarnya anak yang baik. Kalau hanya telat jamaah atau kabur dari sekolah, kami semua pernah melakukannya.

Saya kenal Ruhin saat masuk Madrasah Aliyah. Kebetulan kami menempati kamar yang sama, belajar di sekolah yang sama, dan mengaji di tempat yang sama. Semula ia tampak canggung berada di antara teman-teman. Tapi, lama-lama ia sering membuat mereka senewen dan hilang nafsu makan.

Baca juga:
Pesantren & Mereka yang ‘Tersiksa’ di Dalamnya
Radio, Gadget, & Pesantren yang Sedang Berubah

Untuk memahami sahabat saya yang satu ini, kita bisa menggambarkannya dengan dua kata: masa bodoh dan tukang debat. Dua kata itu mungkin kurang representatif, tapi minimal cukup untuk menunjukkannya sebagai anomali dari teman-teman saya yang lain.

Masa bodoh bisa dibilang ciri khas Masruhin. Ia memang kombinasi berbagai macam karakter (jenius, jayus, cuek, sembrono, dll), sama seperti manusia lainnya. Tapi tanpa masa bodohnya, Ruhin tak ubahnya sesosok makhluk yang asing dan tak pernah kami kenal. Atau tanpa masa bodohnya, Ruhin mungkin tak pernah ada.

Saya sendiri sulit membayangkan Ruhin tanpa masa bodohnya. Saking tak terpisahkannya, suatu saat nanti saya yakin KBBI akan menyerah dan mencantumkan namanya sebagai sinonim masa bodoh. Salah satu contoh sikap masa bodohnya Ruhin bisa kita lihat dalam cerita berikut.

Sepulang dari sekolah, di bawah terik siang yang menyengat, seorang teman (Andik namanya) memungut sebuah nagasari di halaman kamar kami. Karena terburu-buru mengambil wudhu agar bisa berjamaah Zuhur, ia meletakkan makanan basi itu di kusen jendela.

Nagasari itu adalah jajan tak termakan dari hari sebelumnya, yang dibawa seorang wali santri saat menjenguk anaknya. Karena sudah tak layak makan, makanan itu dibuang ke halaman, entah oleh siapa. Andik memungut nagasari itu untuk diberikan pada burung-burung milik Kyai.

Meski seisi kamar sedang terburu-buru untuk mengejar jamaah Zuhur, Ruhin melenggang santai di antara mereka. Bukannya ke tempat wudhu, ia malah merebahkan badannya di lantai, tepat di bawah jendela tempat Andik meletakkan nagasari.

Melihat nagasari tak bertuan ada di dekatnya, ia menggapai makanan itu, membuka daun pisang pembungkusnya, mengendusnya tanpa curiga, dan hap!, benda tak berdosa itu pun lumat di mulutnya sebelum meluncur ke dalam perutnya.

Ketika jamaah bubar dan Andik kembali ke kamar, ia melihat nagasari yang dipungutnya sudah tak di tempatnya semula. Di dekatnya, sambil terduduk dan dengan tatapan kosong, Ruhin menelan gigitan terakhir nagasari yang ditemukannya.

“Makan apa, Hin?” Andik curiga.
“Nagasari,” jawab Ruhin, singkat.
“Dapat dari mana?”
“Tadi di jendela situ.”

Andik menepuk kening.

“Itu basi, pisangnya mau aku kasih ke burung-burungnya Kyai!”
“Basi gimana, wong masih hangat, kok.” Ruhin menjawab sambil nyengir kuda.

Tentu saja masih hangat. Andik memungutnya saat benda itu tergolek tak berdaya di bawah sengatan matahari, sejak pagi sampai tengah hari! Tapi mau dijelaskan bagaimana pun, nasi sudah menjadi karak. Lagipula, Ruhin bergeming mendengar kata-kata temannya itu.

“Biarin wis,” ia membela diri, “gak, gak, kalo mati…”

Masruhin yang saya kenal juga seorang pria yang sering menjelma cobaan berat bagi teman-temannya. Bukan karena suka jahil atau punya kebiasaan ganjil, tapi karena susah dikasih tahu. Siapa pun yang bicara padanya, ia tak akan segan mendebatnya.

Ia memang jago debat, dengan atau tanpa argumen. Debat apa saja, dari fikih, tugas sekolah, ramalan cuaca, sampai siapa pemilik sempak yang tertinggal di WC ustadz. Kalau sedang kambuh, ada teman batuk pun ia debat. Kalau tengah malam ada yang mengigau juga ia debat. Saya baru mau bersin, ia sudah ancang-ancang mendebat.

Debat kusir antara Ruhin dan teman-teman, tak terkecuali saya, kadang lebih mirip eyel-eyelan-nya Kartolo dan Sapari.

“Buruan!” Saya tak sabar menunggunya untuk pergi ke sekolah.
“Kelasnya masih dikunci…” jawabnya, santai.
“Udah dibuka!”
“Belum ada muridnya.”
“Udah berangkat semua, kok (saya mulai panas)!”
“Paling mampir kantin dulu…”
“Kantinnya gak jualan!”
“Ya wis, nanti aku yang jualan.”
“Dimarahin Pak Mursyidi!”
“Aku laporin Pak Ridwan!”
“Aku bilangin Kyai!”
“Aku bilangin Gusti Allah!”

Dan yang waras pun akhirnya mengalah…

Meski tiap membahas Ruhin yang saya ingat adalah dua kata itu, ia sebenarnya juga anak yang penyabar. Saya dan teman-teman seangkatan tahu, mau di pondok atau di sekolah, Ruhin sering menjadi korban ledekan.

Meski begitu, ledekan demi ledekan yang dilontarkan padanya ibarat angin di telinganya. Sama halnya saat dipuji, ia pun tak bereaksi saat diledek teman-teman. Paling-paling menengok sebentar, menggerak-gerakkan bibirnya yang eksotis, lalu melanjutkan kesibukannya.

Seolah-olah kami ini tak ada…

sheep1
Sumber gambar: animalsaustralia.org (https://goo.gl/Wpxtii)

Seorang teman yang tak sengaja membahas Ruhin berkelakar, jangan-jangan teman kami itu sudah sampai pada maqam orang yang ikhlas. Orang yang, kata Kyai dulu, tak lagi punya hasrat dengan pujian atau cemas dengan cemoohan.

Itu mungkin lucu-lucuan teman saya saja. Tapi, siapa yang bisa memastikan kalau itu tak benar?

Persis seperti kita yang tak memedulikan teriakan kambing setiap kali melintas di dekatnya, mereka yang ikhlas juga tak menghiraukan kata-kata manis atau hujatan pedas orang lain. Keduanya sama: sama-sama tak penting.

Saya tertawa mendengar guyonan teman tersebut. Tapi kalau itu benar, saya dan teman-teman harus segera tobat dan minta maaf pada Masruhin. Entah sudah berapa kali kami bertingkah kurang ajar padanya.

Kalau kami sampai kualat, bagaimana?

Yang Satu Aparat Keamanan, Yang Satu Tukang Salon

Kita semua berubah…

Dua puluh tahun yang lalu, Amin dan Yayan hanya dua orang anak ingusan. Maksud saya, benar-benar ingusan. Saya mengenal mereka tak lama setelah pindah rumah dari pelosok sebuah desa di Kabupaten Pasuruan ke daerah pinggiran kota itu, Warungdowo.

Pertemanan saya dengan Amin dan Yayan semakin akrab saat memasuki usia sekolah dasar. Kalau sebelumnya kami hanya teman bermain dan mengaji, sejak saat itu kami juga menjadi teman satu sekolah. Tak sulit membayangkan kedekatan kami bertiga, karena di rumah, masjid, dan sekolah bermain bersama.

Amin yang dulu saya kenal adalah seorang penurut. Dia sering diminta membantu ibunya membersihkan rumah atau menjaga warung. Sedang Yayan adalah tipe anak mama. Saya sering kecewa saat asyik bermain dengannya lalu tiba-tiba mamanya memanggilnya agar tidur siang, “Yayaaan.., pulaaang!!!

Kalau saya ingat, tak satu pun di antara kami yang kelewat nakal. Amin penurut, Yayan anak mama, saya…cengeng. Ingatan itulah yang mengendap di kepala saya. Hingga dewasa, Amin dan Yayan yang saya kenal adalah dua anak yang polos dan lugu.

Baca juga:
Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?
Masruhin & Teman-teman Kambingnya

Lebaran tahun lalu, saya mengunjungi mereka. Amin punya ingatan cukup baik saat melihat saya berdiri di depan rumahnya, begitu pula Yayan. Selama lima jam lebih, kami larut dalam cerita tentang kebersamaan bertahun-tahun lalu. Tentang sawah tempat kami dulu kejar-kejaran, sungai tempat kami mencari ikan, dan malam-malam yang menyenangkan saat Ramadhan.

Amin kini bekerja sebagai penata rias, sedang Yayan aparat keamanan. Amin semula tak berterus terang sewaktu saya tanya tentang sebuah manekin dan perlengkapan rias di ruang tamunya.

“Aku kerja di pabrik obat. Itu kerjaan Mbakku,” katanya, seperti kurang nyaman dengan pertanyaan saya.

Baru setelah Yayan buka mulut, saya baru ngeh kalau Amin hanya nyamar menjadi sales obat. Profesi utamanya banyak bersentuhan dengan model-model cantik. Agaknya diam-diam dia bangga dengan hal ini. Foto profilnya di Blackberry Message (BBM) selalu berpose bareng gadis-gadis bening.

city-street-1246870_960_720
Sumber gambar: pixabay.com (https://goo.gl/Ut7mwP)

Percakapan kami terus bergulir hingga menyinggung soal perempuan. Meski sudah berkeluarga, Yayan masih bertanya-tanya tentang perempuan cantik yang mungkin bisa ditidurinya.

Saya tertawa mendengarnya, meski sebenarnya kurang nyaman. Dan seperti masa bodoh, ia malah bercerita tentang teman-temannya sesama aparat yang sering keluar-masuk panti pijat, tempat-tempat favoritnya untuk berkencan, dan teman-teman kuliah saya yang mungkin bisa ‘dipake’.

Amin tak terlalu banyak menanggapi, mungkin sudah hafal dengan kelakuan Yayan. Dan mengenai perempuan, ia hanya tertarik membicarakan model-model agensi itu dalam kaitan dengan pekerjaannya. Soal pacar, ia seperti menghalau kami agar tak coba-coba menanyakannya.

Setelah kembali ke Depok, saya kadang teringat pertemuan hari itu. Waktu mengubah segalanya. Rumah yang dulu saya tempati memang masih ada, tapi jadi terlihat lebih kecil, di samping sudah berubah menjadi bank. Jalan kampung yang dulu lebar, kini terlihat sempit. Parit tempat saya dan teman-teman dulu biasa buang air juga tampak menciut.

Namun, di antara sekian banyak perubahan yang saya temui, perubahan dalam diri dua sahabat saya itu yang paling sulit saya mengerti.

Mereka bukan hanya berbeda tapi juga kontradiktif. Bayangkan, yang satu aparat keamanan dan bertampang sangar, yang satu lagi penata rias dan suka ‘melambai’. Yang satu suka main perempuan, yang satu lagi seperti tak ada hasrat.

Setelah beberapa jam berbincang, saya juga merasakan kesenjangan di antara mereka. Keduanya seolah saling mengerti ‘batas-batas wilayah’ mereka. Selain mengenang masa kanak-kanak, ada beberapa hal yang Amin enggan menyinggungnya, begitu pula Yayan.

Saya bisa mengerti. Banyak hal yang mungkin terjadi di antara keduanya, dari masa-masa sekolah dasar hingga dewasa, ketika saya tak lagi bersama mereka. Tak berbeda, saya pun malas membahas hal-hal yang agak jauh dari dunia mereka. Itu hanya akan menambah jarak di antara kami bertiga.

Mungkin ada lebih banyak perubahan dan kontradiksi dalam diri teman-teman saya itu daripada yang bisa saya tuliskan. Meski begitu, sahabat tetap sahabat, sampai kapan pun. Kita semua manusia, dan setiap manusia pasti berubah. Itu bukan sesuatu yang aneh dan mengkhawatirkan. “Change is the only constant in life,” kata Heraklitus.

Lagipula, apa yang berbeda dan kontradiktif di antara mereka adalah apa yang kita lihat dalam perjalanan mereka sekarang. Sesuatu yang sifatnya sementara. Kita tak tahu, mungkin saja di depan sana ada persimpangan yang kelak mempertemukan keduanya. Mungkin juga perjalanan mereka saat ini tak lebih dari pilihan-pilihan yang mengarah pada ujung yang sama.

Perubahan adalah bukti bahwa masih ada kehidupan dalam diri kita. Seseorang berubah menjadi A, B, atau Z, saya pikir itu soal pilihan perjalanan. Dan, masing-masing kami sepertinya memilih jalan yang berbeda. Apa pun itu, semoga akhir dari perjalanan ini sama-sama baik. Husnul khatimah.

Depok, 13 April 2013, 7.04

Guru Masa Kecil

Pak Rantam bukan orang yang berkecukupan. Kontrakannya yang sempit, yang lantai semennya retak-retak dan lapisan dindingnya banyak yang terkelupas, membuka mata kami betapa saat itu ia sedang dalam situasi yang sulit.

Namun, hidup susah akibat beban ekonomi yang berat sama sekali tak menampakkan mendung di wajahnya. Ia tampak kuat dan sabar saat ada di antara kami: anak-anak yang setiap selesai Asar mengaji padanya.

Baca juga:
Masjid & Sebuah Pilihan untuk Bahagia
Berkunjung ke Masa Lalu

Di mata kami saat itu, Pak Rantam adalah guru ngaji yang menyenangkan, meski terkadang galak. Dan bagi saya yang sering ketakutan berhadapan dengan orang asing, ia adalah mimpi buruk yang menjelma nyata, apalagi jika teringat kumisnya yang tebal dan jambangnya yang sengaja dipelihara.

Kalau saat itu saya mengaji pada Pak Rantam, itu karena bapak saya jengkel melihat saya menghabiskan siang di pematang sawah untuk mencari belut atau bermain layang-layang. Sesuatu yang wajar belaka dilakukan oleh anak-anak sebaya saya.

Kini, setelah 20 tahun berlalu sejak masa-masa penuh kenangan itu, saya sadar betapa Pak Rantam adalah orang yang sangat berjasa dalam hidup saya. Ialah orang yang mengajari saya bacaan-bacaan shalat, menuntun saya saat terbata-bata mengeja Juz ‘Amma, dan mengajak saya untuk lebih mengenal Tuhan dan nabi-Nya.

Ada banyak guru yang pernah mendidik saya, tapi ruang khusus di hati saya telah dihuni olehnya.

Parents-Worry-as-Their-Kids-Convert-to-Islam-
Sumber gambar: nytimes.com (https://goo.gl/5tzua)

Saya dan mungkin teman-teman yang mengaji padanya tak pernah menyangka bahwa kesabaran, ketelatenan, dan ketegasannya mendidik kami, anak-anak yang kadang berani menertawakan pekerjaannya sebagai tukang kredit perabot, membuka jalan lurus bagi masa depan kami. Bagi saya pribadi, kitab-kitab klasik yang saya pelajari di pesantren dan buku-buku diktat yang saya telaah di kampus adalah omong kosong jika sebelumnya saya tak pernah dididik, dinasihati, dan (tentu saja) dimarahi olehnya.

Kadang saya membandingkan ustadz-ustadz yang suka tampil di televisi, entah sebagai penceramah, narasumber, bintang iklan, atau pemain sinetron, dengan guru masa kecil saya itu. Betapa jauh jarak mereka.

Seperti Pak Rantam, mereka memang bicara tentang agama dan kebaikan-kebaikan di dalamnya. Tapi, tak seperti guru ngaji saya itu, petuah mereka entah mengapa lebih terdengar sebagai perintah-perintah yang memuakkan ketimbang ajakan yang menarik simpati.

Saya tak mengerti apakah ini berhubungan dengan keikhlasan dalam menyampaikan pesan-pesan agama atau tidak. Jika mengenang Pak Rantam yang mengakhiri pekerjaannya sebelum Asar hanya untuk mempersiapkan diri mendidik murid-muridnya, saya mudah menggambarkan beliau sebagai orang yang ikhlas.

Sebaliknya, jika saya melihat ustadz-ustadz seleb berkhutbah di layar kaca, yang konon memasang tarif cukup mahal untuk sekali siaran dan membiarkan awak media mengekspos gaya hidup mereka yang glamour, saya kesulitan bahkan untuk ‘memfitnah’ mereka sebagai orang yang berjuang atas nama agama.

Ketulusan memang bisa kita temukan di mana-mana, kadang bahkan di tempat-tempat yang tak terduga. Tapi, kita setuju bahwa ia sering bersemayam dalam jiwa-jiwa yang sederhana, yang meski hidupnya penuh dengan keterbatasan tapi tak pernah tergoda dengan kesenangan-kesenangan yang sifatnya sementara.

Pak Rantam mungkin tak berpendidikan, punya banyak keterbatasan, dan jauh dari sorot lampu kamera. Tapi kalau kita tengok sejarah, tak ada catatan sebuah generasi emas lahir dari tangan orang-orang yang tamak dan lupa daratan.