Membaca Kembali Buku “Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain”

Nama Dale Carnegie pertama kali saya kenal saat duduk di bangku SMA. Saat itu saya membaca karyanya yang berjudul Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain, terjemahan How to Win Friends and Influence People, di perpustakaan.

Awalnya saya bingung. Apa yang menarik dari buku ini? Cara bertuturnya formal, pilihan katanya jadul, dan tak satu pun halamannya bergambar.

Baca juga:
Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?
Orkestra dan Sebuah Tempat yang Jauh

Kesan itu berubah saat saya membaca kisah-kisah di dalamnya. Meski berupa potongan-potongan cerita, penulisnya tampak lihai menyampaikannya sambil tetap fokus pada topik yang sedang ia bahas.

Beberapa kalimat indah dalam buku ini lalu saya tulis di buku catatan. Sebagian malah ada yang saya hafalkan.

Kesibukan di pesantren dan selanjutnya di kampus membuat saya lupa dengan buku ini. Yang tersisa hanya ingatan tentang sebuah buku yang inspiratif. Baru setelah bekerja di penerbit dan sering berkunjung ke toko buku saya berjumpa lagi dengannya.

Saya langsung ‘kangen-kangenan’ dengan buku ini. Saya bolak-balik halamannya dan saya baca kembali kisah-kisahnya. Saya juga membeli buku-buku lain karya penulis yang sama dan mengirimkannya ke beberapa teman.

how-to-win-friends-and-influence-people
Sumber gambar: http://scbks.blogspot.sg/

Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain disebut-sebut bestseller sepanjang masa. Buku ini pertama kali dicetak pada 1936 di Amerika Serikat dan hingga kini sudah terjual sebanyak 30 juta kopi.

Teknik penulisan yang menarik bukan satu-satunya kelebihan buku ini. Uraiannya tentang bagaimana menjalin hubungan dengan sesama juga tak kalah memikat. Berkali-kali kita diingatkan agar pandai mengendalikan ego dan bersimpati secara tulus pada orang lain.

Kesuksesan dalam banyak hal mustahil diraih jika kita terpaku pada upaya memenangkan ego kita, lalu memaksa orang lain menuruti kemauan kita. Begitu kurang lebih pesan penulis.

Membolak-balik buku ini mengingatkan saya pada kitab-kitab akhlak. Melihat latar belakang penulisnya sebagai seorang pengusaha, menarik saat kita mencermati uraiannya tentang keikhlasan.

Selama ini keikhlasan selalu dikaitkan dengan agama. Dan karena sebagian orang menjaga jarak dengannya, dengan alasan bahwa agama irasional dan kuno, mereka menganggap keikhlasan tak lebih sekadar omong kosong.

Menurut saya, di sinilah salah satu daya tarik buku ini. Meski tak bicara dalam konteks keagamaan, Penulis menekankan keikhlasan sebagai kunci sukses dalam usaha meraih cita-cita apa pun, kapan pun, dan di mana pun.

Artinya, bahkan dalam urusan yang melulu bicara tentang duit dan duit pun, keikhlasan tetap harus dijunjung tinggi. Itu adalah kunci bagi siapa pun yang ingin sukses dan bahagia, sebagaimana fokus utama buku ini.

 

Filosofi Ngopi Sebelum Filosofi Kopi

Jauh sebelum Dewi Lestari menulis Filosofi Kopi, orang-orang sudah mencari makna di balik kegemaran mereka minum kopi, atau yang lebih akrab di telinga kita dengan istilah ‘ngopi’.

Ngopi sejatinya tak sekadar minum kopi. Penyederhanaan istilah ‘minum kopi’ menjadi ‘ngopi’ justru menunjukkan kompleksitas kegiatan tersebut.

Ada yang menganggap ngopi sebagai keisengan untuk mengisi waktu luang. Saya kurang setuju. Mereka yang sedang ngopi bisa jadi malah sedang fokus berpikir, merenung, bertukar ide, atau mencurahkan isi hati.

Ada relasi yang sedang mereka bangun, entah dengan dirinya sendiri atau orang lain.

Baca juga:
Adakah yang Tak Berubah dari Diri Kita?
Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?

Saat ini ngopi sudah menjadi gaya hidup. Di tempat kerja saya, beberapa teman membawa kopi dari berbagai jenis dan merek. Ada kopi Gayo, Lampung, Sidikalang, dan Toraja. Teman-teman yang fanatik tahu bedanya kopi-kopi itu, tapi di lidah saya semua nyaris sama. Maklum, saya tahunya cuma kopi Liong.

Kalau baru pulang liburan, sering mereka membawa oleh-oleh kopi asli dari kota yang mereka kunjungi. Dan beberapa hari kemudian, perbincangan di antara teman-teman tak jauh-jauh dari kopi tersebut. Sembari beristirahat di sela-sela pekerjaan, mereka saling mencicipi kopi itu.

Kadang teman-teman juga mengajak saya ngopi di luar. Kalau sedang sama-sama bokek, kami ngopi di warkop pinggir jalan. Kalau awal bulan ada bonus gaji yang lumayan, kami ngopi di kedai kopi yang lumayan bagus. Kebetulan di dekat kantor ada kedai kopi yang punya koleksi biji kopi berkualitas dari berbagai daerah di Indonesia.

people-2592338_1920
Sumber gambar: pixabay.com (https://goo.gl/Tv1zAz)

Banyak pengusaha yang melihat peluang menjanjikan dari bisnis ini mulai mendirikan kedai kopi. Mereka tak pusing mencari barista, sebab mesin penyeduh kopi banyak dijual di pasaran. Lagipula kalau dicermati, yang kebanyakan orang cari bukan citarasa kopinya tapi tempat nongkrongnya.

Itu sebabnya, tak sedikit kedai kopi yang desain interiornya dibuat sedemikian rupa sehingga pelanggan betah berlama-lama di dalamnya. Menu kopinya sih itu-itu saja, tapi tukang rumpi dan maniak selfie tak akan ragu menghabiskan waktu untuk saling curhat sampai dower atau cekrak-cekrek sepuasnya.

Apa itu berarti kopi tak lebih sekadar pelengkap saat kita nongkrong? Saya yakin para penikmat kopi tak sependapat. Kopi memang kadung lekat sebagai teman saat kita berbincang. Tapi yang lebih penting, ia adalah media ‘pemersatu’. Minimal menyatukan mereka yang betah melek dan ngobrol di meja yang sama.

Kopi punya kemampuan untuk mencairkan suasana dan mendekatkan emosi para penikmatnya, yang membuat perbincangan mereka cair dan hangat. Mungkin, ini yang membuat banyak orang nyaman berbincang sambil minum kopi, meski mungkin topik perbincangan mereka agak serius.

Membicarakan masalah serius sembari minum kopi akan membuat kerawanan-kerawanan diskusi lebih mudah dihindari. Kebuntuan berpikir, kesalahpahaman dengan lawan bicara, bahkan kekeliruan mengambil keputusan lebih sedikit kemungkinannya untuk terjadi.

Secara mental, ngopi mengkondisikan kita untuk rileks. Ini sangat berbeda jika kita berada di ruang rapat atau tempat lain yang bersifat formal. Di kedai kopi, atribut pekerjaan tak begitu berarti. Kita adalah kita yang sesungguhnya, tanpa embel-embel pangkat atau jabatan.

Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?

Pernah tidak bertanya dalam hati, mengapa lagu-lagu zaman dulu tak pernah membosankan, malah semakin enak didengar?

Beberapa waktu yang lalu istri saya heran, kok playlist di laptop saya isinya lagu-lagu jadul semua. Ada lagu Barat tahun 60-70-an, tembang kenangan, lagu era 90-an, dan keroncong Jawa.

“Pantesan suka nembang,” katanya, setelah saya setengah jam jongkok di jamban sambil nembang ala kadarnya. “Lagunya jadul-jadul semua sih.”

Entah kenapa, ada keasyikan tersendiri setiap saya mendengar lagu-lagu lawas. Frank Sinatra, Everly Brothers, Broery Marantika, Chrisye, hingga Soendari Soekotjo adalah beberapa nama yang masih saya dengarkan lagu-lagunya, sampai sekarang.

Dibandingkan lagu-lagu baru, lagu-lagu zaman dulu rasanya tak mudah membosankan. Ada yang bilang karena liriknya, ada juga yang menyebut nada lagunya. Saya sendiri lebih percaya pada faktor X di dalamnya: sesuatu yang berasal dari masa lalu memang selalu asyik untuk dinikmati kembali.

Baca juga:
Seandainya Kita Bisa Kembali Menjadi Anak-anak
Berkunjung ke Masa Lalu

Nostalgia, begitu kata orang-orang. Kalau mendengar lagu jadul, saya memang mudah membayangkan suasana yang digambarkan oleh lagu itu.

Mungkin, ini sama dengan membuka album foto yang dibuat bertahun-tahun yang lalu. Foto-foto itu mungkin sudah usang dan gambarnya mulai pudar, tapi kita tetap menyukainya. Mengapa? Karena kita tak hanya melihat kumpulan gambar diri kita atau mereka yang kita cintai, tapi juga merasakan kembali apa yang dulu pernah kita alami.

Ingatan membawa kita ke masa-masa ketika foto itu dibuat…

Ada ruang keluarga tempat kita bercengkerama dengan orangtua, teras tempat kita bermain sepulang dari sekolah, televisi dan mainan yang setia menemani kita, dan tentu saja orang-orang yang kita cintai.

Kalau foto orang terkasih yang sudah tiada kita temukan juga di album itu, kita akan semakin ‘terhisap’ ke dalam ingatan tentang masa lalu. Kita seperti hidup di masa-masa itu, saat masih bersamanya.

wp-image--1853202222

Mendengar lagu-lagu lawas tak berbeda. Kita bukan hanya mendengar atau menikmati suara indah penyanyinya, tapi juga mengenang. Mengenang sebuah nama, cerita, rasa, mungkin juga tawa dan air mata.

Apa yang dulu kita rasakan seolah hadir kembali. Apalagi jika lagu itu menggambarkan pengalaman pribadi kita, tentang kisah cinta kita misalnya.

Ini adalah topik yang selalu laris di dunia buku (novel, khususnya), film, dan tentu saja musik. Orang-orang menyukainya karena topik itu universal sekaligus bisa sangat personal.

Siapa yang tak pernah merasakan cinta? Atau, siapa yang masa mudanya tak berwarna-warni karena masalah cinta? Semua orang pernah merasakannya: naksir diam-diam, cinta buta pada pacar, cemburu tanpa sebab, ditolak, digantung, kangen mantan, atau tak direstui teman sekos-kosan.

Seiring waktu yang terus berganti, rasa itu menjadi penghuni tetap ingatan kita. Kita tak pernah berusaha melupakan atau setengah mati menjaganya. Mungkin sesekali saja menengoknya. Salah satunya saat kita mendengarkan lagu yang kebetulan bertutur tentangnya.

 

Memaafkan Memang Tak Pernah Mudah

Kita tahu, tak mudah memberikan maaf. Kata orang-orang, hanya mereka yang punya kebesaran hati yang bisa melakukannya.

Maaf dianggap terlalu mahal untuk diberikan cuma-cuma. Apalagi jika orang yang melukai hati kita tak menunjukkan penyesalan atau itikad baik untuk menebus perbuatannya. Kalau memang niat mencari masalah, buat apa meminta maaf? Begitu ego kita bicara.

Sama halnya dengan memaafkan, membalas perbuatan buruk orang lain juga bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Semua sepakat, dendam itu mengerikan bahkan hanya untuk dibayangkan. Tapi kalau kita merasakan sendiri sakit hati akibat ulah orang lain, kita mungkin tergoda untuk melampiaskannya.

adventure-1840292_960_720
Sumber gambar: pixabay.com (https://goo.gl/56anGf)

Dua hal yang tak mudah dilakukan itu, yang satu karena terlalu baik sementara yang satu karena terlalu buruk, memaksa kita melihat alternatif berikutnya: melupakan.

Melupakan mungkin tak mudah, tapi murah. Kita tinggal mengalihkan fokus dari masalah, lalu melanjutkan hidup seperti orang yang tak pernah terluka. Awalnya tentu tak mudah. Kita mungkin perlu berpura-pura dulu bahwa semua sudah berlalu.

Akan tetapi, melupakan ternyata hanya soal waktu. Ketika ingatan tentang suatu luka itu datang, kita merasakan kembali rasa sakit yang pernah ada. Ada yang bilang, ingatan tentang suatu kesedihan lebih memilukan dibanding kesedihan itu sendiri.

Terus, piye?

Memaafkan mahal, membalas butuh niat jahat (ini modal juga, kan?), dan melupakan sebenarnya bukan solusi tapi justru masalah baru lagi. Bagaimana jika kita tak memilih? Berdiam diri sambil pasrah terhadap nasib?

Mungkin itu bisa jadi pilihan yang lain, tapi siapa pun yang setuju mungkin perlu segera memeriksakan kesehatan (jiwanya). Sulit membayangkan betapa tersiksanya orang yang enggan memaafkan, membalas, sekaligus melupakan. Mirip orang yang dilarang makan gula, garam, dan jeroan karena komplikasi penyakit.

Jadi sebelum terlambat, bagaimana jika kita mempertimbangkan lagi pilihan yang pertama? Tak perlu memaksakan diri. Bayangkan saja kedamaian yang akan kita peroleh dengannya.

Berkunjung ke Masa Lalu

Semua orang pernah kelelahan menjalani hidup. Sebagian ada yang mengaku bahwa dirinya butuh hiburan, sebagian yang lain mencoba mengingkarinya dan berkeras melanjutkan perjalanan.

Lelah bukan hal yang buruk dan harus dihindari. Lelah itu manusiawi. Minuman suplemen yang katanya bisa menghilangkan lelah dan mengembalikan stamina, itu yang kurang manusiawi. Obatnya lelah ya istirahat. Seperti pedati, kalau sapinya kelelahan, ya harus diistirahatkan. Percuma dipaksa berjalan.

Meski begitu, istirahat tak melulu harus diam, apalagi tidur. ‘Mengunjungi’ masa lalu adalah cara lain untuk mengisi waktu istirahat kita. Ada energi baru yang bisa kita dapat dengannya. Tidak, kita tak perlu mencari pengalaman yang luar biasa. Seiring berjalannya waktu, hal-hal biasa pun kadang berubah menjadi istimewa.

Baca juga:
Guru Masa Kecil
Seandainya Kita Bisa Kembali Menjadi Anak-anak

Keberhasilan-keberhasilan kecil di masa silam akan terlihat lebih indah jika dilihat dari tempat kita berdiri sekarang. Keberhasilan kita untuk menyelesaikan kuliah (bahkan seandainya itu karena ultimatum orangtua), melunasi cicilan kendaraan (setelah mati-matian mengurangi uang jajan), atau lepas dari kebiasaan merokok (meski sesekali masih kebobolan) adalah beberapa contohnya.

Mungkin semua itu bukan hal besar bagi mereka yang mendengarnya. Tapi bagi kita sendiri, orang yang paling merasakan manfaat dari usaha tersebut dan paling bersyukur telah bisa meraihnya, itu tak sekadar cerita. Itu adalah sejarah, meski tak perlu dipahat di batu pualam (yaelah!) atau ditulis di dinding Facebook.

Pengalaman pahit yang pernah kita telan juga akan berbeda jika kita melihatnya sekarang. Ada kekecewaan, penyesalan, mungkin sakit hati. Tapi, itu tak cukup kuat memporakporandakan hidup untuk kedua kalinya. Paling-paling mood kerja kita saja yang sedikit berantakan.

city-person-relaxing-sitting-large
Sumber gambar: pixabay.com (https://goo.gl/KKwG1j)

Dari tempat kita berpijak sekarang, keberhasilan dan kegagalan semakin mengecil perbedaannya. Ya sih, ada kebanggaan saat kita menceritakan keberhasilan yang pernah kita peroleh. Tapi, mari lihat lebih dekat. Bahkan di balik sebuah kegagalan pun kadang terselip kearifan Tuhan. Nah, bukankah itu juga sebuah keindahan?

Dengan keindahan dan kesuramannya, masa lalu juga kerap menyimpan jawaban bagi masalah yang sekarang sedang kita hadapi. Kita hanya perlu membuka file-file yang ada di dalamnya untuk kita baca ulang. Tak perlu heran jika jawaban-jawaban itu tampak sederhana tapi di luar perkiraan.

Masalah sehari-hari yang kita anggap menakutkan kadang hanya pengulangan dari masalah yang dulu pernah kita atasi. Kadang skalanya saja yang berbeda, kadang penyebabnya, kadang momentumnya. Cara mengatasinya boleh jadi sama. Kalaupun ada bedanya, paling-paling cuma sedikit.

Jadi, kekhawatiran bahwa kita akan gagal mengatasi masalah itu sebenarnya tak beralasan. Atau minimal, tak perlu dibesar-besarkan. Lha wong itu bukan pengalaman pertama kita, kok!

Berterus terang bahwa kita butuh hiburan atau meyakinkan diri bahwa kita tak kelelahan sebenarnya tak jauh berbeda, asal kita mau ‘berkunjung’ ke masa silam. Dengan mengenang, kita bisa menemukan hal-hal yang menghibur. Dengan mengenang pula, kita tak perlu menipu diri sendiri.

Bisa-bisa kita malah memperoleh semangat baru untuk terus melanjutkan hidup. Siapa tahu?

 

Ciganjur, 24 Maret 201