Seandainya Kita Bisa Kembali Menjadi Anak-anak

Kadang ingin rasanya saya kembali menjadi anak-anak. Hari demi hari saya habiskan untuk bermain, tertawa, bertengkar, menangis, lalu tertawa lagi. Indah jika hidup tak memikirkan deadline pekerjaan atau cicilan kendaraan.

Saya masih ingat. Dulu, setiap kali Bapak, Ibu, dan kakak-kakak saya berbicang tentang sesuatu yang serius, saya pasti disuruh pergi. Bermain ke rumah tetangga, jalan-jalan ke sawah, atau ke mana saja agar saya tak mendengar “perbincangan orang-orang dewasa”.

Baca juga:
Guru Masa Kecil
Sekali Lagi Tentang ‘Berkunjung’ ke Masa Lalu

Maka, yang saya rasakan saat itu adalah masa kanak-kanak yang menyenangkan. Saya tahu, keluarga saya tak selalu bahagia. Tapi, Bapak dan Ibu saya berani menjanjikan saya masa depan yang baik-baik saja.

Dua puluh tahun sejak masa-masa itu, saya semakin mudah membayangkan beratnya beban keluarga saya kala itu. Bukan perkara mudah bagi siapa pun yang tinggal serumah dengan kami untuk terlihat baik-baik saja. Tapi Bapak, Ibu, dan kakak-kakak saya berhasil melewatinya.

Coffee-Shop-1024x768
Sumber gambar: stockography.co (https://goo.gl/sPKGR6)

 

Kalau sadar masa-masa paling membahagiakan dalam hidup saya bersamaan dengan masa-masa paling sulit dalam keluarga, saya jadi merasa bersalah berkhayal menjadi anak-anak. Sebab, itu berarti saya merayakan saat-saat keluarga saya berada di titik terendah dalam hidup mereka.

Saya jadi ingin menganulir. Daripada kembali menjadi anak-anak, mungkin lebih baik kalau saat itu saya sudah dewasa. Menjadi anak pertama, mungkin? Agar sedikit-sedikit saya bisa meringankan beban Bapak. Menjadi tempatnya bertukar pikiran atau mencurahkan perasaan.

Di samping saya bisa bertanya tentang impian-impian dan petualangannya saat masih bujangan.

Masjid & Sebuah Pilihan untuk Bahagia

Masjid-masjid lawas selalu memberikan rasa nyaman setiap kali saya singgahi. Pintu, ubin, pilar, dan langit-langitnya yang sudah tua menghadirkan suasana yang teduh dan damai.

Saya gemar dengan hal-hal yang bergaya retro: musik, film, furnitur, aksesoris, dan bangunan. Tapi, nuansa yang saya dapati di masjid-masjid tersebut rasanya jauh lebih menyenangkan ketimbang itu semua.

Masjid Jami’ Kota Malang ini salah satunya. Setiap pulang kampung, saya selalu menyempatkan diri berkunjung kemari. Shalat jamaah, membaca buku, atau sekadar melepas lelah dan menghabiskan waktu.

Ada ketenangan di setiap jengkal ruangannya. Ada perasaan bahagia yang pelan-pelan merasuk ke hati saya ketika melewati pilar-pilar besar dan pintu-pintu raksasanya. Dulu saat masih kuliah, setiap kali terbebani suatu masalah, udara di masjid ini selalu bisa membuat saya sejenak beristirahat darinya.

Baca juga:
Guru Masa Kecil
Lebaran: Apa yang Salah dengan Diri Kita?

Jangan membayangkan masjid ini seperti Istiqlal yang konon terbesar se-Asia Tenggara atau Baiturrahman yang keindahannya nyaris melegenda. Tidak, masjid ini tak sefenomenal kedua masjid itu.

Jangankan membandingkannya dengan Istiqlal dan Baiturrahman, menyebut masjid ini landmark Kota Malang pun rasanya terlalu memaksakan. Di samping tak memiliki keunikan, masjid ini juga bukan tempat terjadinya peristiwa bersejarah di masa silam.

Singkatnya, masjid ini dibangun sebagaimana masjid-masjid lain pada umumnya. Tak ada peristiwa besar yang meletarbelakangi pembangunannya, tak ada orang ternama yang menjadi saksi perjalanan sejarahnya.

Orang-orang datang, sembahyang, mendaras Al-Qur`an, dan mengikuti pengajian yang diadakan di dalamnya, sama seperti mereka melakukannya di banyak masjid yang lainnya.

***

Kita kadang mendapat kemudahan untuk memperoleh yang terbaik dalam hidup: tempat tinggal, kendaraan, sekolah, dan pekerjaan. Tapi seperti kita tahu, apa yang terbaik menurut kita ternyata tak selalu pas dengan apa yang kita inginkan.

Kebahagiaan tak selalu paralel dengan keberlimpahan, bahkan kemewahan. Seorang petani miskin di sebuah dusun terpencil bisa saja lebih bahagia ketimbang seorang eksekutif kaya-raya yang tinggal di apartemen mewah di tengah kota.

Kedua orang itu sama-sama memiliki kebutuhan dan masing-masing berusaha untuk memenuhi kebutuhannya. Orang pertama mungkin terlihat mati-matian menutupi biaya hidupnya, sedang orang kedua tampak optimis dan tak kesulitan memenuhinya. Logika sederhana mengatakan, orang pertama tak mungkin sebahagia orang kedua.

Namun, apa memang demikian kenyataannya? Belum tentu. Apa yang terlihat dari dua orang tersebut adalah kondisi ‘yang tampak’. Padahal, kebahagiaan adalah tentang ‘yang tak tampak’. Benar bahwa keberlimpahan atau kemewahan bisa membawa kebahagiaan, tapi tak selalu demikian.

Antara keberlimpahan (yang lebih bersifat fisik) dan kebahagiaan (yang merupakan kondisi mental) sebenarnya ada sebuah ‘jembatan’, penghubung yang menempatkan kedua kondisi itu sebagai sebab dan akibat. Jembatan itu adalah kesadaran.

Jika kesadaran menyatakan bahwa sepiring nasi itu nikmat dan cukup untuk mengusir lapar maka hati akan mengkondisikan dirinya untuk bahagia. Sebaliknya, jika kesadaran menyatakan bahwa sepiring nasi itu tak sesuai selera dan tak cukup mengenyangkan, dengan sendirinya hati akan mengkondisikan dirinya untuk bersedih.

Kita kadang mengira kebahagiaan bisa didapat dengan memiliki berbagai fasilitas hidup yang mewah. Kita mengartikan kebahagiaan sebagai kondisi yang tercipta akibat sesuatu yang datang dari luar. Padahal, kebahagiaan adalah akibat dari bagaimana hati kita menyikapi faktor-faktor eksternal itu.

Men_reading_the_Koran_in_Umayyad_Mosque,_Damascus,_Syria
Sumber gambar: myvoicecanada.com (https://goo.gl/oaABKa)

Persis seperti masjid yang sedang saya singgahi. Bangunan fisiknya mungkin biasa-biasa saja. Fasilitas dan ornamennya juga tak ada yang mewah. Tapi perasaan bahagia tatkala berada di dalamnya memalingkan saya dari kekurangan-kekurangan itu.

Perasaan seperti ini tentu subyektif. Bagi saya pribadi, selain karena masjid ini memang nyaman, ada kenangan-kenangan yang sulit saya lupakan di sini. Tapi, mungkin karena hal itu juga saya lantas memiliki perspektif yang positif dalam menyikapi faktor-faktor eksternal tersebut.

Hal-hal yang mengecewakan tak selalu bisa kita hindari. Bahkan ada banyak peristiwa menyedihkan terjadi di luar kendali kita. Ketika peristiwa-peristiwa itu terjadi, kita kadang merasa percuma berupaya mengubahnya.

Namun, dengan menyikapi semua itu secara benar, sama artinya kita mengolahnya menjadi bahan bakar kebahagiaan. Kuncinya ada pada kita: tak usah mati-matian menolaknya, kita tak akan kuat. Cukup geser sudut pandang kita, yang semula bertumpu pada kekurangan-kekurangan ke arah yang positif, yaitu kelebihan-kelebihan.

Nah sekarang, masjid mana yang menghadirkan kedamaian setiap kali kau singgahi?

 

Saya tulis saat berada di Masjid Jami’ Kota Malang, Agustus 2013/Ramadan 1434.

Yang Tersisa di Menteng Raya

Ada kedamaian yang pelan-pelan menguasai hati saya, saat siang yang cerah itu saya dan sekitar tiga puluh teman dari komunitas Ngopi Jakarta berjalan-jalan di bilangan Menteng, Jakarta Pusat.

Selama ini saya sering berkhayal, betapa menyenangkan seandainya bisa melakukan perjalanan ke masa silam. Menyapa mereka yang hidup di zaman itu dan melihat dunia sebagaimana mereka melihatnya. Merasakan sendiri menjadi rakyat dari sebuah bangsa yang belum memiliki nama.

Dan di kawasan yang menyimpan banyak kenangan sejarah siang itu, saya membayangkan menjadi musafir dari masa depan yang jauh. Saya menyaksikan dari dekat kesederhanaan orang-orang zaman itu dan menebak-nebak apa yang sulit mereka percaya seandainya berkunjung ke masa kini.

***

Saya kadang merasa beruntung hidup di zaman modern. Terima kasih pada teknologi yang memberikan kemudahan dalam banyak hal; dari blender sampai printer, dari ATM sampai GPS. Benda-benda yang sudah menjadi bagian hidup kita dan mungkin tak terbayangkan oleh mereka yang hidup satu abad sebelumnya.

Namun, berjalan di kawasan yang dulu merupakan hunian para bangsawan dan orang-orang penting di zaman Hindia-Belanda itu memantik tanya di benak saya: benarkah kita, yang seakan tak bisa membebaskan diri dari teknologi ini, lebih beruntung ketimbang mereka yang terlahir lebih dulu?

Kemajuan teknologi memang membuat hidup kita saat ini terasa lebih mudah dibandingkan hidup orang-orang seabad yang lalu. Tapi, bukankah setiap zaman memiliki tantangannya sendiri dan setiap kita, kapan pun masa hidup kita, akan berhadapan dengan tantangan-tantangan itu?

Kakek-buyut kita mungkin tak pernah merasakan nyamannya duduk di dalam mobil ber-AC, serunya menonton film di televisi, atau mudahnya bertegur sapa menggunakan handphone. Tapi, mereka juga tak pernah pusing dengan angsuran kendaraan, tagihan listrik, atau tarif internet.

Pembangunan fisik sebuah kota, yang biasanya berkelindan dengan kemajuan teknologi, juga diyakini memberikan kemudahan bagi manusia modern. Ironisnya, hal itu kadang dilakukan dengan menghancurkan bangunan yang lebih dulu ada. Menyusuri Jalan Cilacap, Setu Lembang, Taman Suropati, dan bertamu di kediaman Alm. Roeslan Abdulgani serta Romo Adolf Heuken mengonfirmasi hal itu.

Hanya sedikit saksi bisu sejarah masa lalu yang bisa kita temukan di tempat-tempat itu. The Hermitage yang terletak di Jalan Cilacap, yang dulu merupakan kantor telekomunikasi Belanda bernama Telefoongebouw, hampir-hampir tak ada bedanya dengan hotel lain yang dibangun belakangan ini.

Setu Lembang dan Taman Suropati juga sama. Mungkin tak ada bedanya dengan taman-taman lain yang baru dibangun oleh Ahok. Kalau ada satu atau dua sentuhan masa lalu yang masih tersisa di sana (meski saya tak tahu itu apa), jelas itu tak cukup untuk menghadirkan suasana tempo doeloe.

Kesan yang berbeda saya rasakan saat berkunjung ke kediaman Alm. Roeslan Abdulgani dan Romo Adolf Heuken. Selain bangunan rumahnya yang masih memberikan nuansa era 60 atau 70-an, berbincang-bincang dengan para tuan rumah juga membuka mata saya tentang apa yang pernah terjadi di masa silam dan, sebagai perbandingan, apa yang tengah berubah saat ini.

Saya bisa merasakan sisa-sisa keindahan di dua rumah itu, bahkan saat baru menginjakkan kaki di halamannya. Tapi, itu tak berselang lama. Keluh kesah Romo Heuken tentang Jakarta yang semakin bising dan tetangga-tetangga barunya yang masa bodoh dengan keaslian arsitektur rumah zaman dulu membuat saya lupa dengan suasana rumahnya yang teduh dan tenang.

Saya bisa saja menuliskan sederet kekecewaan di sini, sampai saya kehabisan waktu bahkan untuk mengingat sisa-sisa keindahan masa lalu di Kota Taman itu. Tapi, satu yang saya syukuri. Di ujung perjalanan kami siang itu, sebuah gedung tua menjadi penutup yang sempurna.

Gedung itu adalah Kunstkring Art Gallery, sebuah bangunan yang berdiri tahun 1914 dan didesain oleh P.A.J. Moojen. Gedung tersebut pernah menjadi kantor imigrasi Jakarta Pusat (1950-1997) dan sebelumnya kantor pusat Majelis Islam A’la Indonesia (1942-1945), cikal bakal Masyumi.

IMG_4386
Kunstkring Art Gallery, tampak dari depan. Foto: Jejen
IMG_4362
Berbagai lukisan dipamerkan di dalamnya. Ada yang menjadi koleksi pengelola gedung, ada juga yang dijual untuk umum. Foto: Jejen
IMG_20170525_144532_HDR
Dokumentasi peristiwa masa lalu. Foto: Jejen

Kalau kita pernah menonton Sang Kyai, sebuah film tentang sejarah perjuangan KH. Hasyim Asy’ari (kakek Gus Dur), kita melihat adegan para kyai berdiskusi dengan pemerintah pendudukan Jepang di tempat itu. Keputusan-keputusan para ulama dalam forum tersebut selanjutnya turut membuka jalan bagi kemerdekaan Indonesia.

Berada di dalam Kunstkring Art Gallery seperti berada di suatu tempat yang memisahkan hari ini dan masa lalu. Kita bisa menjadi diri sendiri, seorang manusia modern dengan pola pikir dan gaya hidup yang kekinian. Pada saat yang sama, kita juga bisa menengok sejenak hari-hari yang telah lalu, bukan untuk menetap di sana tapi sekadar mengambil pelajaran darinya.

Apa yang berubah di kawasan Menteng kurang lebih sama dengan yang terjadi di banyak tempat lain di Jakarta (dan Indonesia). Sebagian orang menganggapnya sebagai konsekuensi perkembangan zaman, sebagian yang lain melihatnya sebagai sebuah ironi. Ironi dari sebuah bangsa yang terus membanggakan identitas dirinya tapi pada saat yang sama melupakan sejarah masa lalunya.

Padahal, hanya mereka yang mau menghargai masa lalunya yang mampu membangun masa depannya, bukan?