6b65c8a5481f0edd6e237d47332f4e1e

“I pedaled as fast as I could, as if I were escaping from longing, from innocence, from her. Time has passed, and I have loved many women. And as they’ve held me close and asked if I will remember them, I’ve said, ‘Yes, I will remember you.’ But the only one I’ve never forgotten is the one who never asked: Malena.” ~Malena, Giuseppe Tornatore

Pict. source: https://uk.pinterest.com (https://goo.gl/t3hgb1)

 

Berkunjung ke Masa Lalu

Semua orang pernah kelelahan menjalani hidup. Sebagian ada yang mengaku bahwa dirinya butuh hiburan, sebagian yang lain mencoba mengingkarinya dan berkeras melanjutkan perjalanan.

Lelah bukan hal yang buruk dan harus dihindari. Lelah itu manusiawi. Minuman suplemen yang katanya bisa menghilangkan lelah dan mengembalikan stamina, itu yang kurang manusiawi. Obatnya lelah ya istirahat. Seperti pedati, kalau sapinya kelelahan, ya harus diistirahatkan. Percuma dipaksa berjalan.

Meski begitu, istirahat tak melulu harus diam, apalagi tidur. ‘Mengunjungi’ masa lalu adalah cara lain untuk mengisi waktu istirahat kita. Ada energi baru yang bisa kita dapat dengannya. Tidak, kita tak perlu mencari pengalaman yang luar biasa. Seiring berjalannya waktu, hal-hal biasa pun kadang berubah menjadi istimewa.

Baca juga:
Guru Masa Kecil
Seandainya Kita Bisa Kembali Menjadi Anak-anak

Keberhasilan-keberhasilan kecil di masa silam akan terlihat lebih indah jika dilihat dari tempat kita berdiri sekarang. Keberhasilan kita untuk menyelesaikan kuliah (bahkan seandainya itu karena ultimatum orangtua), melunasi cicilan kendaraan (setelah mati-matian mengurangi uang jajan), atau lepas dari kebiasaan merokok (meski sesekali masih kebobolan) adalah beberapa contohnya.

Mungkin semua itu bukan hal besar bagi mereka yang mendengarnya. Tapi bagi kita sendiri, orang yang paling merasakan manfaat dari usaha tersebut dan paling bersyukur telah bisa meraihnya, itu tak sekadar cerita. Itu adalah sejarah, meski tak perlu dipahat di batu pualam (yaelah!) atau ditulis di dinding Facebook.

Pengalaman pahit yang pernah kita telan juga akan berbeda jika kita melihatnya sekarang. Ada kekecewaan, penyesalan, mungkin sakit hati. Tapi, itu tak cukup kuat memporakporandakan hidup untuk kedua kalinya. Paling-paling mood kerja kita saja yang sedikit berantakan.

city-person-relaxing-sitting-large
Sumber gambar: pixabay.com (https://goo.gl/KKwG1j)

Dari tempat kita berpijak sekarang, keberhasilan dan kegagalan semakin mengecil perbedaannya. Ya sih, ada kebanggaan saat kita menceritakan keberhasilan yang pernah kita peroleh. Tapi, mari lihat lebih dekat. Bahkan di balik sebuah kegagalan pun kadang terselip kearifan Tuhan. Nah, bukankah itu juga sebuah keindahan?

Dengan keindahan dan kesuramannya, masa lalu juga kerap menyimpan jawaban bagi masalah yang sekarang sedang kita hadapi. Kita hanya perlu membuka file-file yang ada di dalamnya untuk kita baca ulang. Tak perlu heran jika jawaban-jawaban itu tampak sederhana tapi di luar perkiraan.

Masalah sehari-hari yang kita anggap menakutkan kadang hanya pengulangan dari masalah yang dulu pernah kita atasi. Kadang skalanya saja yang berbeda, kadang penyebabnya, kadang momentumnya. Cara mengatasinya boleh jadi sama. Kalaupun ada bedanya, paling-paling cuma sedikit.

Jadi, kekhawatiran bahwa kita akan gagal mengatasi masalah itu sebenarnya tak beralasan. Atau minimal, tak perlu dibesar-besarkan. Lha wong itu bukan pengalaman pertama kita, kok!

Berterus terang bahwa kita butuh hiburan atau meyakinkan diri bahwa kita tak kelelahan sebenarnya tak jauh berbeda, asal kita mau ‘berkunjung’ ke masa silam. Dengan mengenang, kita bisa menemukan hal-hal yang menghibur. Dengan mengenang pula, kita tak perlu menipu diri sendiri.

Bisa-bisa kita malah memperoleh semangat baru untuk terus melanjutkan hidup. Siapa tahu?

 

Ciganjur, 24 Maret 201

notebook

“I am nothing special, of this I am sure. I am a common man with common thoughts and I’ve led a common life. There are no monuments dedicated to me and my name will soon be forgotten, but I’ve loved another with all my heart and soul, and to me, this has always been enough.” ~The Notebook, Nicholas Sparks

*Pict. source: http://www.independent.co.uk (https://goo.gl/XHckWR)

Orkestra dan Sebuah Tempat yang Jauh

Pertama kali nonton orkestra, saya seperti hidup di dunia yang jauh. Sebuah tempat yang tak pernah saya kunjungi tapi anehnya seakan sangat saya kenali.

Seumur hidup, saya hanya bisa menonton orkestra di layar kaca. Itu pun tak pernah selesai. Maka malam itu, di antara penonton lain yang terlihat sangat menikmati pertunjukan musik klasik itu, saya berulang kali meyakinkan diri: tidak, saya tak sedang bermimpi.

Orkestra adalah pertunjukan mewah bagi anak kampung seperti saya. Ketika satu persatu artis memainkan alat musiknya, tubuh saya seakan ringan dan melayang. Alunan musik yang tercipta dari piano, biola, cello, dan flute membuka pintu-pintu imajiner dalam diri saya yang terkunci lama.

Saya tak pernah menikmati musik seperti malam itu. Ego dan pikiran-pikiran kacau yang mengendap di alam batin saya seakan larut bersama simfoni yang keindahannya nyaris tak terkatakan. Deadline pekerjaan dan utang ke teman-teman semakin pudar dari ingatan (!).

Baca juga:
Yang Tersisa di Menteng Raya
Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?

Jarang-jarang saya lebay seperti sekarang. Saya rasa ini karena kebingungan saya mengungkapkan keindahan yang baru malam itu saya temukan. Di kampung saya, jangankan orkestra, dangdut koplo ala Monata saja tak pernah ada.

Di tengah merdunya musik klasik malam itu, seakan ada ketenangan sekaligus kebahagiaan yang meresap ke dalam hati dan pikiran saya. Sesuatu yang tak pernah saya nikmati sebelumnya, atau setidaknya berbeda dari keasyikan membaca buku, menonton film, atau mengunjungi tempat-tempat yang bersejarah.

Kalau boleh mengenang, dua jam berada di ruangan bundar itu rasanya sangat singkat. Bagi telinga saya, lagu-lagu yang dibawakan memang kurang familiar, tak seperti lagu-lagu ST 12. Tapi, mendengar begitu banyak alat musik dimainkan bersama-sama adalah pengalaman pertama sekaligus luar biasa.

concert-1838412_960_720
Sumber gambar: https://goo.gl/sYGraF

Ketika nada-nada terakhir dimainkan dan tepuk tangan penonton memenuhi ruangan, saya teringat apa yang dipesankan orang-orang tua kepada saya. Hidup kadang membawa kita pada jalan menurun yang membuat langkah begitu ringan. Di lain waktu, ia memaksa kita memanjat bukit-bukit yang menjulang.

Bukan maksud saya sok bijaksana. Ini murni reaksi otak (ndeso) saya yang shock, karena siang hari masih berjibaku dengan rutinitas yang menyebalkan, lalu malamnya duduk seruangan dengan seniman terkenal, aktor dan aktris Ibukota, juga para ekspat (termasuk Dubes Inggris, kalau tak salah). Ya…meski saya ada di ujung paling jauh di ruangan itu.

Teknik legato yang mengalir tanpa jeda dan staccato yang putus-putus adalah tamsil perjalanan hidup. Ada saatnya rencana-rencana kita terwujud begitu saja. Lancar jaya, seperti bus malamAda saatnya pula usaha kita tersendat-sendat, seperti angkot yang berhenti setiap kali melintas di depan gang yang dilewatinya.

Seperti partitur lagu, hidup adalah sebuah proses. Kalau hanya satu atau dua nada yang kita dengarkan, tak ada keindahan yang kita dapatkan. Do, re, mi… Di mana indahnya? Nada-nada itu baru terdengar merdu kalau kita rangkai menjadi sebuah lagu dan kita mainkan sebagai sebuah kesatuan.

Sebagaimana partitur sebuah lagu, kita tak akan bisa merasakan indahnya hidup jika berhenti di satu titik. Lagi pula, ‘alat musik’ itu memang bukan untuk kita mainkan sesaat tapi selamanya. Hanya dengan terus memainkannya, keindahan yang selama ini kita damba akan kita temukan.

Nah sekarang, kalau kita ingin berhenti sementara lagu yang kita mainkan belum selesai, coba pikirkan sekali lagi. Keindahan apa yang kita peroleh dengan memainkan separuh lagu? Lagi pula, jangan pernah lupa: kita tak pernah sendiri. Ada Conductor yang selalu menunjukkan arah dan memberi kita tanda-tanda.

Kukusan, 27 April 2014 (22.29 WIB)

Flipped1

“My heart stopped. It just stopped beating. And for the first time in my life, I had that feeling. You know, like the world is moving all around you, all beneath you, all inside you, and you’re floating. Floating in midair. And the only thing keeping you from drifting away is the other person’s eyes. They’re connected to yours by some invisible physical force, and they hold you fast while the rest of the world swirls and twirls and falls completely away.” ~Wendelin Van Draanen, Flipped

*Pict. source: http://flipped-2010.blogspot.sg/

Lebaran: Apa yang Salah dengan Diri Kita?

Kita tak selalu bisa berperilaku dewasa, seperti selama ini kita kira. Coba saja perhatikan momen lebaran seperti sekarang. Di rumah, di masjid, di pasar, bahkan di jalan-jalan, kita kadang masih berperilaku seperti anak-anak.

Tak perlu kaget kalau kita dan pasangan kita bersitegang soal waktu yang tepat untuk mudik, budget untuk belanja oleh-oleh, atau tempat kita menginap selama berada di kampung halaman. Ini baru tiga hal yang lumrah menyulut pertengkaran menjelang datangnya hari raya.

Selebihnya? Mari kita ingat satu atau dua tahun yang lalu saat lebaran tinggal menghitung hari. Untuk membantu, ilustrasi berikut mungkin bisa menyegarkan ingatan.

Seorang ayah ingin menghadiri reuni teman-teman SMP-nya. Kangen-kangenan? Tentu, selain untuk menunjukkan kesuksesannya merantau di kota. Siapa yang tak bangga dengan ini? Sang ibu tentu kesal, meski tak cukup peka dengan maksud ayah yang sebenarnya.

Karena jarak kampung halaman yang jauh, seorang suami ingin keluarganya mudik menggunakan pesawat atau kereta. Nyaman dan bisa menghemat waktu. Sementara sang istri, yang tak ingin hanya melihat tetangganya pamer kendaraan, memaksa mudik menggunakan mobil barunya.

Kalau kita sadar betapa perilaku kita kadang sangat menggelikan, kita mungkin bisa menyimpulkan bahwa itu terjadi bukan karena persoalan yang ada terlalu pelik atau solusi untuk menyelesaikannya terlalu rumit, melainkan ego.

Ego adalah biang kerok mengapa persoalan-persoalan remeh menjadi sulit kita selesaikan. Ia ada di belakang setiap maksud yang kekanak-kanakan, yang kemudian menyamarkannya dengan dalih yang santun dan beradab, meski seringkali gagal.

Ego yang biasa dimanjakan tak bisa dilawan dengan argumentasi yang masuk akal, bahkan seandainya itu terbukti benar. Kita jadi enggan berterus terang. Ketika pasangan kita sadar akan hal itu dan dengan kesal menanyakannya, kita tersinggung.

Ketika kita mengedepankan ego, saat itu kita sebenarnya tahu bahwa kita sedang memaksakan diri. Tapi karena tuntutan-tuntutan tak kasat mata di pundak kita (gengsi, misalnya), kita akan cenderung mengabaikannya, meski tak bisa sepenuhnya.

Ego tak berdampak apa-apa terhadap suatu masalah kecuali membuatnya semakin runyam. Kalau kita ingin menyelesaikan masalah sambil membiarkan ego kita terlibat maka bukan kebahagiaan yang kita dapat tapi keruwetan yang baru.

Jalan keluar sebuah masalah mungkin mengeluarkan kita dari masalah tersebut. Tapi tunggu beberapa saat, pelan-pelan ia akan menghadapkan kita pada masalah yang lain. Keluar mulut buaya, masuk mulut singa.

Masalah adalah satu hal, dan ego adalah hal lain. Menyelesaikan masalah dengan masalah, selain bertentangan dengan slogan Pegadaian, tempat favorit sebagian orang menjelang lebaran*, juga akan membuat kesucian Idul Fitri tercemar dan indahnya silaturahmi rusak.

pinkbackyardbirthdayparty-39
Sumber gambar: masseyteam.wordpress.com (https://goo.gl/6qjgWG)

Lalu, sementara kita memakai baju baru, memasak hidangan lezat, dan pergi ke tempat-tempat wisata, tak sedikit pun terlintas di kepala apakah itu hasil usaha mengekang hawa nafsu di bulan Ramadan atau sebuah pelampiasan.

Ayolah… Tak ada salahnya kita jujur pada diri sendiri. Benarkah euforia itu sebuah ungkapan syukur pada Yang Mahakuasa, atau itu sebenarnya ‘serangan balik’ hawa nafsu kita? Sebuah pelampiasan setelah sebulan penuh kita menuruti kemauan-Nya.

Orang dewasa tak selalu bisa berperilaku dewasa, dan terkadang mereka lebih payah ketimbang anak-anak. Kejujuran dan ketulusan yang saban hari kita ceramahkan pada anak-anak kadang sengaja kita lupakan, tak terkecuali pada momen lebaran.

Coba bandingkan dengan masa kecil kita, ketika lebaran adalah hari yang benar-benar pantas kita rayakan. Kita sibuk bergembira, tak ada waktu untuk melayani gengsi dan kepalsuan. Tak muluk, cukup dengan silaturahmi ke para tetangga dan sedikit uang saku dari sanak saudara.

*Meski tahun ini terjadi kemerosotan hingga 20%, lihat: https://goo.gl/Sia5Ka *dibahas 😝